Mengingat Perjanjian


Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub; juga perjanjian dengan Ishak dan perjanjian-Ku dengan Abrahampun akan Kuingat dan negeri itu akan Kuingat juga” (Imamat 26:42).

Allah memberikan penekanan yang positif dan negatif ketika mengingatkan perjanjian-Nya.
Penekanan positif—”Jikalau kamu ...berpegang pada perintah-Ku... Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya” (Im. 26:3,4). Akan ada damai sejahtera di dalam negeri itu (ay. 6). Binatang buas akan lenyap (ay. 6). Bila terjadi perang, mereka akan menang dengan telak: satu orang Israel akan mengalahkan 20 orang musuh, dan lima orang akan mengejar seratus (ay. 8). Jumlah mereka akan menjamur (ay. 9). Allah akan menempatkan kemah-Nya di tengah-tengah orang Israel dan berjalan-jalan di antara mereka (ay. 11).

Penekanan negatif—Jika mereka melanggar perjanjian, maka wabah penyakit akan berjangkit. Mereka akan sia-sia menabur benih karena hasilnya akan habis dimakan musuh (ay. 16). Mereka akan dikalahkan dan tanah mereka dikuasai oleh musuh (ay. 17). Kekeringan akan membuat panen mereka gagal (ay. 19, 20). Binatang buas akan memakan anak-anak dan ternak mereka (ay. 22). Umat Allah akan menjadi kanibal karena kelaparan yang melanda (ay. 29). Tanah akan rusak dan mereka akan terserak di antara bangsa-bangsa lain (ay. 32,33). Kecemasan akan melanda hati mereka, sehingga bunyi daun yang ditiup angin pun akan membuat mereka takut, (ay. 36).

Namun, betapa pun terpuruk mereka nantinya, Allah tetap menyerukan pertobatan. ‘Tetapi bila mereka mengakui kesalahan mereka ...maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub; ...dengan Ishak dan ...dengan Abraham ...dan negeri itu akan Kuingat juga.” (ay. 41, 42).

Semua berkat dan kutuk ini tergantung pada apakah tanah negeri itu menikmati hari Sabat. Tanah menjadi berharga karena luasnya terbatas, sama seperti barang yang langka. YHWH-lah pemilik semua tanah, namun la membaginya kepada manusia. Sehingga bila manusia memperlakukan tanah secara tidak layak, sama saja mereka telah menyakiti hati Allah.

Memiliki tanah berarti memiliki mata pencaharian. Orang hanya menyerahkan tanah mereka bila terpaksa, dan jika memungkinkan hanya akan menyewakannya. Karena itulah hingga kini orang Israel sangat menghargai kepemilikan atas tanah.
Di beberapa kalangan orang Kristen, janji pemberian tanah ini dispiritualisasi menjadi pemberian langit dan bumi yang baru.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan