Renungan "Holy, Holely Wholly (Bagian 4)"
"Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.”(Ibrani 9:14).
    Saya terkejut mengetahui bahwa ada sebuah gunung yang tersembunyi dalam lima buku pertama Alkitab-sebuah gunung dengan dua lereng dan sebuah puncak tinggi. Para sarjana menyebut gunung "tersembunyi" harfiah ini "chiasm"-perangkat unik di mana para penulis Alkitab bisa menyembunyikan gunung-gunung tematik menyesuaikan pemikiran sejajar di dalam ayat-ayat Ibrani dan Yunani. Para penulis mengembangkan chiasm untuk menarik perhatian para pembaca yang cerdas kepada sebuah puncak gunung, kebenaran puncak atau fokus dari pasal atau buku, atau dalam hal Pentateuch, puncak dari semua kelima buku itu. Karena lima buku pertama Alkitab, yang semua ditulis Oleh Musa, adalah suatu chiasm. Bayangkan sebuah segitiga,   dan   pada sisi sebelah kiri bagian bawah adalah buku Kejadian. Pada sisi seberang segitiga bagian bawah adalah buku Ulangan. Keduabuku menyampaikan kesamaan sastra yang mengagumkan. Satelah buku Kejadian, naik lereng kiri dari chiasm itu ada buku Keluaran, dan naik di lereng kanan sejajar dengan itu adalah buku Bilangan (buku sebelum Ulangan). Dan menempati puncak chiasm itu adalah buku yang sisa, Imamat.
    Tetapi William Shea dan Richard Davidson mendapati bahwa Imamat itu scndiri adalah chiasm, dengan pasal 1 pada lereng kiri dan pasal 27 pada lereng kanan, dll. Dan naik ke atas lereng, apa yang menjadi puncak dari lmamat (dan secara luas, Pentateuch) pasal puncak? Imamat 16-pasal tentang Hari Pendamaian dan pemulihan bait suci!
    Tetapi ada lagi. Shea dan Davidson mengamati bahwa kata kuncinya naik ke lereng kiri dari chiasm Imamat adalah “darah,” digunakan lebih 60 kali dalam pasal 1 sampai 16. Dan kata kunci turun lereng kanan adalah "holy (kudus)" digunakan lebih 60 kali dari pasal 16 sampai akhir. Dan pada puncak Hari Pendamaian membawa dua tema kembar itu, korban Ilahi ("darah") dan kesucian manusia, dan mempersatukan mereka. Panggilan Allah bagi kasucian kita dilandaskan atashadiah Allah yakni keselamatan-Nya. Naik pada satu sisi gunung itu, Allah nyatakan melalui korban, "Aku manyerahkan hidup-Ku sepenuhnya untukmu." Turun ke sisi lain gunung Ia memanggil, “Sekarang jalani kehidupanmu sepenuhnya bagi Aku." Jadi jangan biarkan ada yang mencoba memberitahu Anda bahwa pemulihan tempat kudus akhir zaman itu tentang legalisme tanpa kasih karunia. Kedua sisi gunung mengajarkan kita sebaliknya. Tidak heran umat pilihan berterima kasih kapada Allah karena gunung yang disebut Kalvari!
Sekolah Sabat ”Iman” Setan
Jika perbuatan tidak ada, hanya akan ada satu cara untuk “mambuktikan" keaslian iman seseorang: malalui sifat ortodoks. Jika saya percaya kepada sesuatu yang benar, maka saya harus memiliki iman, benarkan?
Bacalah 2 Kor. 4:2; 1 Tim. 2:4; Yak. 5:19, 20; l Ptr. 1:22; dan 1 Yoh. 3:18, 19. Apakah yang ayat-ayat ini katakan tentang pentingnya mangenal kebanaran?

Tidak ada karaguan lagi bahwa pengetahuan intelektual akan kebenaran ada tempatnya, tempat yang sangat penting. Tetapi, pengetahuan itu, di dalam dan dari dirinya, tidaklah cukup untuk membuktikan bahwa seseorang mamiliki iman yang menyelamatkan.  

Peringatan apakah yang diberikan kepada kita dalam Yakobus 2:19 tentang konsep yang salah dari iman yang benar? 

Pernyataan yang paling mendasar tentang iman dalam Perjanjian Lama adalah dalam Ulangan 6:4, "Dengarlah, hai orang Israal: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu Esa!" Di kenal sabagai shema (karena ini diawali  dengan kata Ibrani tarsebut), ayat ini mcnyimpulkan dangan rapi kayakinan kapada Allah yang Esa. Setiap ajaran Alkitab yang lain mangalir dari kebanaran yang utama ini.

Tetapi Setan pun percaya pada kebanaran ini. Bahkan, mereka tahu itu! Tetapi, apa gunanya itu bagi meraka? Mereka gemetar di hadapan hadirat Allah, seperti yang mereka lakukan ketika berhadapan dangan Yesus serta diperintahkan oleh Yesus untuk keluar dari para korbannya (Markus 3: I I ; 5 : 7). Sebuah iman intelek yang tidak memiliki dampak bagaimana kita bertindak

adalah percuma; bahkan, itu sama saja dangan iman yang Setan miliki, Setan yang secara aktif bekerja menipu kita dengan doktrin-doktrin yang salah serta kebohongan-kebohongan. Sama separti lsrael pada zaman Yesus, Setan akan mendorong orang-orang untuk percaya kapada tipuan-tipuannya berdasarkankainginan korban mereka untuk berpcgang kapada tabiat yang idak suci serta tidak benar: "Tatapi Roh dangan tagas mangatakan bahvva di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu niangikuti 1·0h—r0h panyasat dan ajaran satan—satan" (I Tim. 4:1).  

Iman harus diwujudkan dalam hidup kita atau gantinya iman lain yang tidak menyalamatkan; yaitu, "iman Setan,” dan iman separti ini tidak akan menyalamatkan kita tetapi itu akan manguntungkan mereka (Setan).

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan