RENUNGAN "HOLY, HOLELY, WHOLLY (bagian2)
"Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, Tuhan, kudus dan Aku telah me-
misahkan kamu dari bangsa- bangsa lain, supaya kamu menjadi milik—Ku"
(Imamat. 20:26).


Mungkinkah cara terbaik tiba pada pembahasan kata empat huruf itu
“holy" (suci, kudus) adalah dengan belajar mengucapkannya salah eja? La-
gipula, tidak ada cara kita bisa menghilangkan kata itu dari perbendaha—
raan kata Kitab Suci atau Holy Scripture (nah ada lagi). Tetapi kenapa harus
begitu? Apakah Anda mengetahui bahwa itu satu-satunya pelengkap Allah
yang diberikan ekspresi tiga kali lipat dalam Alkitab? Tidak ada dalam Al-
kitab kita membaca, “Kasih, kasih, kasih—Allah itu kasih," atau “Adil, adil,
adil—Allah itu adil." Karakteristik satu—satunya dari Ilahi yang diperbesar
dengan ekspresi tiga kali ganda adalah "Kudus (holy), kudus, kuduslah TU—
HAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan—Nya!" Dan “Kudus, ku-
dus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada
dan yang akan datang,!" (Yes. 6:3; Wahyu 4:8). Perjanjian Lama, Perjan—
jian Baru—kekudusan Allah ditinggikan di hadapan alam semesta. Melebihi
kasih-Nya dan keadilan—Nya? Tidak! Kekudusan Ilahi seperti terang putih
sehingga ketika dibiaskan oleh prisma, memancarkan segala warna indah
sebuah pelangi. Meskipun demikian, kekudusan—Nya adalah sajian akhir
yang amat panting dan segala hal yang penuh kemuliaan dan baik tentang
Allah kita, Tidak heran eksprasi tiga kali lipat itu berasal dari bibir makhluk
ciptaan yang dengan sukacita dan kekaguman penuh hormat tunduk sujud
menyembah Allah Pencipta alam semesta. “Kudus" memang Dia!
Begitu menakjubkan, Allah mengénakan sebutan Dia itu dan meminta-
nya (memerintahkannya) agar diperlihatkan dalam diri umat pilihan—Nya.
Bukan hanya dalam ayat Perjanjian Lama kita hari ini. Tetapi juga dalam
Perjanjian Baru: “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh ‘
hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab
ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (1 Ptr. 1:15, 16).
Jadi apa yang akan terjadi jika kita belajar salah mengeja kata “holy" un-
tuk membetulkannya? Benar--w-h-o-l-l-y(seluruhnya) untuk “holy." Bu·
kankah begitu kita mengajar anak-anak kalau Allah itu menguduskan Sabat,
mengambil tujuh koin, menebarkannya di atas meja dan menggeser koin
(hari) ketujuh ke sisi untuk memperlihatkan Sabat sebagai “whoIly” (sep-
nuhnya) milik Allah? Bukankah kita mengilustrasikan persepuluhan milik
Allah dengan cara yang sama, menyusun 10 koin di atas meja dan kemudian
menggeser koin kesepuluh ke sisi untuk memperlihatkan persepuluhan se-
bagai “sepenuhnya (wholly)" milik Allah? Sabat kudus, persepuluhan ku-
dus, umat kudus -- Allah menaruh jari—Nya ke atas mereka dan memisahkan
mereka. Bukankah kita sepenuhnya milik Allah kita yang penuh kasih? ·

Sekolah Sabat "Iman yang Mati"

"Apakah gunanya, saudara-saudaraku,jika seorang mengatakan, bah-
wa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapat-
kah iman itu menyelamatkan dia'?" (Yakobus 2:14). Bagaimanakah kita
memahami ayat ini dalam konteks keselamatan oleh iman saja? Bacalah
Yakobus 2:15-I7; bandingkan dengan Roma 3:27, 28; Efesus 2:8, 9.
  
Iman tanpa perbuatan. Yakobus memberikan ilustrasi yang jelas tentang jenis
iman yang palsu ini (Yak 2:15, 16). Seperti yang kita telah saksikan, penurutan 
di dalam kitab Yakobus adalah penghubung. Jadi, bagaimana kita berhubungan 
dengan saudara atau saudari dalam jemaat yang membutuhkan? Kata-kata ti- 
daklah cukup. Kita tidak dapat sekadar berkata, "Pergilah dengan damai. Allah
akan mcnyediakan," ketika Allah telah mcnyedliakan apa yang kita butuhkan
untuk menolong mereka.
Tentunya, kebutuhan tidak akan ada akhirnya, dan kita tidak dapat meme-
nuhi semuanya. Tetapi ada prinsip yang disebut _"kekuatan dari satu." Kita ada-
lah tangan dan kaki Yesus, dan kita tepat menolong orang lain seorang demi
seorang. Bahkan,demikianlah biasanya cara Yesus melayani. Dalam Markus
5:22-34 seorang yang anaknya sedang sekarat memohon pertolongan kepada-
Nya, Dalam perjalanan, seorang wanita mendekat dari belakang dan menja- 
mah jubah Yesus. Setelah penyembuhan  itu, Ycsus dapat saja pergi dan wanita
itu ditinggalkan dengan keadaan sukacita. Tetapi Yesus tahu bahwa wanita itu
memerlukan lebih dari sekadar penyembuhan fisik. Jadi, ia berhenti dan meng-
ambil waktu supaya wanita itu dapat belajar menjadi saksi bagi Yesus, mem-
bagikan sebagaimana ia menerima. Kemudian la mengatakan perkataan yang
sama dalam kitab Yakobus 2:16, "Pergilah dengan selamat" (Narkus 5:34).
'Tetapi, tidak seperli perkataaan dalam Yakobus, dalam kasus ini kata-kata itu
memiliki sesuatu arti.
Ketika kita menyadari sebuah kebutuhan dan tidak melakukan  apa-apa 
terhadapnya, kita telah kehilangan kesempatan untuk melalui iman. `Dengan
melakukan itu, iman kita menjadi makin lemah dan semakin padam. lni di-
sebabkan karena iman tanpa perbuatan adalah  mati. Yakobus bahkan meng-
gambarkan hal ini lebih tegas: iman telah mati. Jika iman itu hidup, perbuatnn
akan menyertainya. Tetapi jika tidak, apakah gunanya  itu? Di akhir ayat 14,
Yakobus menanyakan sebuah pertanyan tentang jenis iman yang tidak beker-
 ja dan sia - sia ini. Hal ini terlihat lebih jelas dalam terjemahan bahasa Yunani
dari pada terjemahan yang lain: "Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?" Ja-
waban yang Yakobus harapkan dari  kita adalah jelas, "'Tidak."

Bagaimanakah kita dapat belajar untuk mengekspresikan iman kita
lebih baik melalui perbuatan kita sementara kita menjaga diri kita dari
penipuan bahwa perbuatan menyelamatkan kita?

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan