Allah Ada di Sana

“Tetapi banyak di antara para imam, orang-orang Lewi dan kepala-kepala kaum keluarga, orang tua-tua yang pernah melihat rumah yang dahulu, menangis dengan suara nyaring, ketika perletakan dasar rumah ini dilakukan di depan mata mereka, sedang banyak orang bersorak-sorai dengan suara nyaring karena kegirangan"(Ezra 3:12).


Dua suara nubuatan memberi pengharapan kepada bangsa Yahudi yang berada di pembuangan bahwa pada akhirnya mereka akan kembali ke Yerusalem dan bait suci dipulihkan. Salah satunya adalah Yeremia, yang bernubuat. “Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini” (Yer. 29:10). Yang lainnya adalah pernyataan Yesaya akan janji: “Akulah yang berkata tentang Koresh: Dia gembala-Ku; segala kehendak-Ku akan digenapinya dengan mengatakan tentang Yerusalem: Baiklah ia dibangun! dan tentang Bait Suci: Baiklah diletakkan dasarnya!” (Yes. 44:28).

Dengan jatuhnya Babel kepada Media Persia pada tahun 328 SM, orang-orang buangan yang lelah menikmati aturan yang lebih toleransi. Yakni, pada kenyataannya, Koresh, raja baru mereka, memberi mereka izin untuk pulang dan membangun kembali bait suci. Utusan yang bahagia yang dipimpin oleh Zerubabel dikirim untuk menyelesaikan tugas itu. Dengan memanfaatkan beberapa batu dari Bait Salomo yang 'ditemukan di antara reruntuhan dan menggali yang lainnya, mereka berhasil mendirikan sebuah bangunan yang mirip dengan yang aslinya. Ketika akhirnya tugas mereka selesai, orang-orang buangan yang bahagia sangat bersukacita.

Tetapi tidak semua orang bergabung dalam sukacita. Yang lebih tua yang mengingat bait suci Salomo tidak bersukacita—kenyataannya, ketika mereka melihat dasar yang dibangun kembali, mereka berkabung dalam kesedihan. Ingatan akan bangunan yang semula dan semua berkat yang hilang sia-sia selama 70 tahun masa pembuangan mereka menimbulkan air mata kesedihan, bukan lagu-lagu pujian (Ezra 3:12).

Meskipun bangunan bait suci yang kedua ini tidak setara dengan kemegahan bait suci Salomo, kehadiran Allah tidak kurang nyata. Jika berkat Tuhan didasarkan pada tampilan materi, kemegahan bait suci pertama akan menjamin kekekalan dukungan surga—tetapi tidak demikian. Karena meskipun Allah menuntut pemberian terbaik dari kita, Dia menghargai motif, bukan materialisme; kesetiaan, bukan pertunjukan; dan usaha, bukan kilauan.

Dia membuat perjanjian dengan Yakub di atas batu, Musa di semak belukar, Elia dalam sebuah gua, wanita Samaria di tepi sumur, sida-sida Etiopia dalam kereta yang ditarik kuda. Di mana pun dan kapan pun kita mendirikan tenda kita dan memanggil nama-Nya dengan ketulusan, tempat itu menjadi Ebenezer kita, Shiloh kita, Gunung Moria kita—bait suci di mana pujian dan doa diterima.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan