Yesus Kita yang Tidak Dapat Dihancurkan 

"Jawab Yesus kepada mereka: ‘Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yohanes 2:19).

Dia melakukannya lagi! Menghancurkan bait suci? Bahkan saran itu sendiri sangat mencemarkan. Bagaimanakah bisa seseorang, terutama seorang Yahudi, membayangkan hal seperti itu? Hal itu bahkan lebih buruk daripada mengutuk ibu, atau membakar bendera, atau merendahkan keluarga atau bangsa seseorang. Bagaimanakah dia bisa melakukannya? Mengapakah Dia bahkan mengatakan saran yang tidak sopan seperti itu?

Tetapi kemudian, seolah-olah untuk menambah penistaan, ia berjanji akan : membangunnya kembali hanya dalam tiga hari. Apakah Anda mendengarnya? Pertama dia menyinggung kehancuran bait suci Allah, dan kemudian Dia dengan berani mengatakan bahwa Dia—seorang diri—dapat membangunnya kembali dalam tiga hari. Betapa suatu kelancangan yang tidak tanggung-tanggung! Salomo memerlukan waktu selama tujuh setengah tahun untuk membangunnya dan Zerubabel empat setengah tahun untuk membangunnya kembali Dan dia mengaku, akan melakukannya hanya dalam 72 jam. Pria ini adalah seorang egomaniak, meriam yang lepas kendali, musuh Allah, dan berbahaya bagi orang banyak, dan penyesat seperti itu harus dihukum mati! Inilah yang dipikirkan oleh musuh Kristus.

Tetapi tidak sepenuhnya keprihatinan kepada bait suci yang memicu api kebencian mereka. Tetapi sikapnya yang tidak mementingkan diri, pengorbanan-Nya yang rendah hati yang mengungkapkan keserakahan dan kesombongan diri mereka. Mereka setiap hari memeras rakyat yang hanya memiliki sedikit harta, merampas para janda, menindas orang miskin, dan mengabaikan kebutuhan orang yang kurang beruntung. Pesan dan sikapnya membuka kedok mereka, dan mereka berkeinginan untuk membebaskan diri dari hadirat-Nya dan mereka melakukannya!

Mereka menyalibkan Allah kita; perwujudan hidup dari semua yang bait suci duniawi lambangkan. Ia adalah objek yang ditunjuk oleh semuanya, subjek semua pengaturannya—domba Paskah, dupa wangi, cahaya lilin, hukum yang hidup, roti harian, tirai yang melindungi, kehadiran Shekinah, dan mereka membunuh Dia. Bait Suci itu terbaring hancur, tetapi tidak lama. Dia bangkit dari kubur oleh kuasa-Nya sendiri setelah beristirahat Selama tiga hari di dalam kubur.

Pernyataan-Nya: “Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali” (lihat Yohanes 10:17) terbukti bukanlah bualan kosong, tetapi peringatan serius kepada musuh-musuh-Nya dan janji yang mengesankan untuk para pengikut-Nya; bukti utama kemenangan-Nya atas Iblis—bukti tertinggi bahwa Dia memang Bait Suci kita yang benar dan hidup.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan