POKOK ANGGUR "YANG" BENAR

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yohanes 15:1-4).

Sebagian besar para pembaca Perjanjian Baru tidak melihat kekuatan sepenuhnya perikop ini. Tetapi tidak demikian para murid. Karena mereka orang Yahudi, maka mereka melihat pentingnya arti pernyataan Yesus bahwa Dia itu pokok anggur.

Lagi-lagi Perjanjian Lama menggambarkan Israel sebagai pokok anggur dan kebun anggur Allah. “Kebun anggur TUHAN semesta alam,” Yesaya menyatakan, “ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya” (Yes. 5:7). Dan Yeremia menyatakan bahwa Allah pernah berkata kepada Israel, “Aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan” (Yer. 2:21). “Telah Kauambil pohon anggur dari Mesir,” kata pemazmur (Mzm. 80:9). Maka, pokok anggur menjadi lambang Israel, sampai sedemikian rupa sehingga mereka mereproduksikan pada mata uang logam mereka ketika mereka masih bangsa yang merdeka. Jadi untuk menjadi bagian pokok anggur berarti menjadi seorang Israel atau Yahudi.

Tetapi ajaran Perjanjian Lama mengenai pokok anggur itu tidak berakhir dengan identitas Israel sebagai pokok anggur Allah. Bagian lain melambangkan kenyataan bahwa Kitab Suci selalu menghubungkan Israel dengan gambaran kemerosotan. Maksud Yesaya adalah kebun anggur itu sudah menjadi liar. Bagi Yeremia, bangsa itu sudah berbalik dari “pokok anggur pilihan” yang Allah tanam menjadi “pohon berbau busuk, pohon anggur liar” (Yer. 2:21). Dan bagi Hosea “Israel adalah pohon anggur yang riap” (Hos. 10:1).

Gambaran kata-kata ini memberi latar belakang bagi pernyataan Yesus yang membuat terkejut, yaitu “Akulah pokok anggur.” Implikasi pernyataan itu, tentu saja, karena dilahirkan sebagai orang Yahudi maka tidak otomatis membuat seseorang menjadi bagian kebun anggur Allah. Sebaliknya, Yesus memberitahu para pendengarnya orang Yahudi (dan kita) agar menjadi bagian umat benar Allah, maka kita harus akrab berhubungan dengan-Nya.

Pendapat itu akan membawa Yesus ke sebuah diskusi dalam Yohanes 15:6-10, mengenai apakah artinya menjadi bagian dari-Nya sebagai ranting-ranting yang berada dekat dengan pokok anggur yang benar.

Sebelum kita memeriksa ayat-ayat, itu kita perlu merenungkan jalan menuju kehidupan kekal. Jalan itu bukanlah dilahirkan sebagai orang Baptis, Lutheran, Katolik, atau bahkan Advent. Pada intinya hal itu berarti kita terhubung dengan Yesus sebagai Juruselamat, Tuhan, dan Teman kita. Menjadi bagian Pokok Anggur berarti kehidupan dan sasaran kita sepenuhnya sesuai kehidupan dan sasaran Tuhan.
 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan