BERHATI-HATILAH BERDOA BAGI DIRI SENDIRI

“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan’’ (Lukas 18:10-14).

Tidak ada yang lebih menyenangkan selain berdoa bagi diri sendiri mengenai diri sendiri! Tentu saja, segala sesuatu yang dikatakan mengenai dirinya sendiri itu, benar. Dia berpuasa. Dia dengan cermat memberi persepuluhan. Dia tidak seperti orang-orang lain. Dan tentu saja tidak seperti pemungut cukai yang rendah dan mengenaskan itu.

Dalam keseluruhannya, orang Farisi itu orang baik. Dan dia mengetahuinya. Di dalam doanya, dia ingin pastikan bahwa Allah juga mengakui hal itu. Jadi dia menyampaikan kesaksian tentang kebenarannya, kesetiaannya kepada gereja, dan sebagainya. Dia mengingatkan kita pada Rabi Simeon ben Jochai, yang pernah berkata, “Jika hanya ada dua orang yang benar di dunia, saya dan putra saya adalah kedua orang ini; dan jika hanya ada satu, maka sayalah itu!” Sesungguhnya, orang Farisi dalam perumpamaan itu tidak berdoa tetapi memberitahu betapa Allah baik dirinya.

William Barclay menulis, “Tetapi pertanyaannya bukanlah, ‘Apakah saya sebaik sesama saya?’ Pertanyaannya adalah, ‘Apakah saya sebaik Allah?’” Apabila kita melihat diri kita di sisi Allah maka yang seseorang dapat lakukan hanyalah berseru “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!”

Itulah doa si pemungut cukai. Dan perhatikan bahwa dia berkata, “Aku orang berdosa ini,” dan bukan orang berdosa saja. Secara tajam dia menyadari kekurangan pribadinya dan pemberontakannya. Dari kedalaman hatinya yang hancur, dia terengah-engah mengaku dosanya kepada Allah.

Dan di sinilah mukjizat kasih karunia. Ini bukan kebanggaan karena kebaikan kita yang diperhitungkan Allah. Tetapi dengan jujur berani menghadapi kehidupan kita menurut Firman dan karakter-Nya.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita” (1 Yoh. 1:9). “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8, 9).

Perhatikan: “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain” (Luk. 18:9).

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan