HARUS"BERARTI PERLU"

“Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Markus 8:31).

Harus” berarti perlu. Yesus memberitahu kepada para murid-Nya bahwa Dia “harus... dibunuh.” Bari sudut pandang-Nya, kayu salib bukan suatu pilihan tetapi suatu keharusan. Dia sudah datang di bumi bukan saja untuk menjalani kehidupan tanpa dosa namun sebagai contoh bagi kita, tetap “untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang'’ (Markus 10:45). “bilah darah-Ku, darah perjanjian,” Dia memberi tahu para murid-Nya pada Perjamuan Malam yang terakhir, “yang ditumpahkan bagi banyak orang” (Mrk. 14:24).

Kematian Kristus merupakan hal yang utama dalam rencana keselamatan. Tanpa kematiam-Nya yang menggantikan kita maka tidak akan ada keselamatan sama sekali. Karena keperluan itu Dia mulai mengajarkan kepada para murid dengan jelas. Tetapi sebagaimana diperlihatkan secara jelas oleh kejadian-kejadian yang berhubungan dengan upaya-Nya yang pertama, hal itu akan merupakan tugas yang sulit untuk dicapai.

Mengapa? Karena segala sesuatu dalam latar belakang para murid bertentangan dengan hal tersebut. Pengertian mereka mengenai Kemesiasan dengan jelas mengajarkan bawa Mesias akan “muncul dari keturunan Daud” untuk “menyelamatkan dalam belas kasihan umat yang tersisa” yaitu umat Allah dan pada saat bersamaan menghancurkan musuh-musuh mereka. Dia akan datang untuk menghancurkan keangkuhan para pendosa seperti tempayan tukang periuk; memecahkan substansi mereka dengan tongkat besi; untuk merusakkan bangsa-bangsa yang tidak mengikuti hukum dengan kata mulutnya.”

Rangga Yahudi tidak tahu menahu tentang seorang Mesias yang menderita. Maka, pernyataan Yesus bahwa Dia harus menderita dan mati merupakan suatu pukulan yang tidak diduga-duga bagi para murid-Nya. Alasan apapun tidak akan dapat membuat mereka menyimpulkan bahwa Yesus harus mati. Sang Merias yang menderita adalah suatu kemustahilan. Mereka tidak riap untuk Merias yang akan mati menyelamatkan mereka dari dosa. Mereka mengharapkan seorang yang akan membebaskan mereka dari penindasan bangsa Roma.

Dan dengan tidak mengerti peran Merias, mereka tentu saja tidak berada dalam posisi untuk menangkap arti dari kebangkitan-Nya-kekurangan yang di kemudian hari akan mendatangkan kepedihan besar bagi mereka.

Dengan gagasan-gagasan yang mereka pikirkan sebelumnya, itu telah membutakan para murid yang mula-mula. Dinamika yang sama mengancam kita semua.

Tolonglah kami, ya Tuhan, agar mata kami dapat melihat dan hati kami dapat percaya.

1 komentar :

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan