YESUS KATAKAN TENTANG PERNIKAHAN

“Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: ‘Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?’ Jawab Yesus: Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”’(Matius 19:3-6).


Dua sumber terbesar pengajaran Yesus adalah tanggapan-tanggapan-Nya bagi pertanyaan-pertanyaan Petrus dan jawaban-jawaban-Nya terhadap pertanyaan-pertanyaan para pemimpin Yahudi. Dalam konteks upaya umat Yahudi untuk menjebak Dia, maka Yesus memberitahu kita lima gagasan utama mengenai pernikahan.

Pertama, Allah sendiri merancang pernikahan. Inilah lembaga yang diberikan Allah, dan bukan sebuah kontrak sosial. Kedua, pernikahan adalah sebuah ikatan antara pria dan wanita. Allah “menjadikan mereka laki-laki dan perempuan.” Maksud Allah bukanlah suatu dunia seks ganda. Michael Green menjelaskan, “Ada perbedaan dan saling melengkapi yang diatur Allah antara pria dan wanita. Hal itu begitu jelas sehingga sangat perlu ditegaskan kembali di akhir abad kedua puluh ketika homoseks dianggap pilihan sah bagi satu pernikahan.” Ketiga, pernikahan dimaksudkan permanen: “Keduanya itu menjadi satu daging.” Sang Pencipta tidak bermaksud dalam penciptaan-Nya yang sempurna itu bahwa hubungan pernikahan akan hancur. Harus disesalkan, bahwa dalam dunia yang tidak sempurna ini bisa saja ada hubungan tidak memenuhi tujuan Allah. Tetapi perceraian bukanlah satu hal yang ideal.

Keempat, pernikahan itu eksklusif. Pasangan yang terdiri dari dua pribadi-bukan tiga, empat, atau lima-menjadi satu daging. Satu pria dan satu wanita membentuk suatu pernikahan. Ideal itu meniadakan “kasus-kasus” yang katanya tidak merepotkan dari begitu banyak orang sekarang dan poligami orang-orang zaman dulu. Rupanya, izin Allah untuk berpoligami di Perjanjian Lama adalah suatu kelonggaran yang kurang ideal bagi budaya yang sudah berakar dan kelemahan manusia. Kelima, pernikahan menciptakan unit keluarga yang kokoh. Menikah termasuk meninggalkan orangtua dan bersatu dengan pasangan. Dengan demikian pernikahan menjadi yang terkuat dan paling penting dari semua hubungan manusia.

Hari ini adalah suatu momen yang baik untuk dan bersyukur kepada Allah karena pernikahan. Ini juga waktu yang sangat baik bagi mereka yang menikah untuk memperbarui ikrar mereka terhadap satu sama lain, dan bagi mereka yang sedang mempertimbangkan pernikahan sebagai yang serius dalam maksud-maksud yang sakral dari karunia Ilahi ini. Kita memiliki Allah yang ingin membuat pernikahan-pernikahan yang baik, lebih baik lagi memulihkan hubungan-hubungan yang putus, dan untuk mengampuni mereka yang tidak mencapai ideal-Nya.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan