SEBUAH PELAJARAN SABAT

“Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat” (Lukas 23:55,56).

Lebih daripada para penulis Injil lainnya, Lukas perlu secara khusus memberitahukan kepada kita bahwa para murid Yesus beristirahat pada hari Sabat “menurut hukum Taurat,” setelah penyaliban. Inilah sebuah tema yang bergulir di dua buku panjang yang disumbangkan kepada Alkitab oleh satu-satunya penulis yang bukan Yahudi.

Kita kemungkinan mengharapkan komentar-komentar seperti itu berasal dari seorang seperti Matius yang menulis untuk para pembaca Yahudi. Tetapi Matius tidak menekankan Sabat kepada sebuah komunitas umat percaya yang terlalu kaku terhadap topik tersebut. Yang para pembacanya butuhkan adalah sebuah pelajaran mengenai bagaimana memelihara hari tersebut (Mat. 12:1-12).

Tetapi Lukas masalahnya berbeda. Dia perlu menekankan hari Sabat itu kepada suatu kelompok orang Kristen yang memiliki latar belakang Sabat yang kurang kuat. Oleh karena itu, maka dia menyoroti kenyataan bahwa para pengikut Yesus yang pertama dengan setia memelihara Sabat dari era Kekristenan. Dan dengan berbuat demikian, Lukas menjelaskan secara jelas hari apa yang sedang dia bicarakan. Dia menonjolkan kenyataan bahwa Yesus disalib pada hari Jumat (Luk. 23:54), beristirahat pada Sabtu Sabat (ayat 56), dan dibangkitkan kembali pada hari Minggu, hari pertama minggu.

Ini bukan kasus yang dipisahkan mengenai perhatian Lukas kepada satu perintah yang berawal dengan kata “ingatlah” (Kel. 20:8). Lebih dulu dia sudah menekankan kenyataan bahwa Yesus sendiri punya “kebiasaan” memelihara Sabat (Luk. 4:16). Itu tentu saja, kita harapkan, karena Yesus orang Yahudi. Tetapi pernyataan mengenai para murid beristirahat pada hari Sabat menjelaskan bahwa Kristus tidak memberi instruksi yang bertentangan sebaliknya untuk dilakukan selama Dia hidup di dunia.

Tujuan Lukas menyoroti Sabat hari ketujuh dilanjutkan dalam kitab Kisah, di mana dia secara konsisten mengemukakan bahwa para rasul berbakti pada hari Sabat dan bukan hari Minggu (Kis. 13:14,42,44; 17:2; 18:4), bahkan apabila tidak ada cukup orang Yahudi untuk membentuk sebuah jemaat (Kis. 16:13).

Lukas yang bukan Yahudi ini diilhami untuk mengemukakan pemeliharaan hari Sabat dengan cara yang tidak pernah dilakukan para penulis Perjanjian Baru. Baginya, Sabat sungguh-sungguh adalah hari yang harus digarisbawahi dan diingat oleh gereja yang sebagian besar anggotanya bukan Yahudi, kepada siapa dia menulis. Dia tidak tahu mengenai hari kebaktian yang lain, kecuali yang satu ini yang diberikan “menurut hukum Taurat.”

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan