TIDAK TAKUT

“Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. Jadi janganlah kamu takut” (Matius 10:24-26).

Tidak takut! Benar begitu? Apakah Yesus tahu apa yang Dia katakan? Apakah Dia sudah keluar jalur? Bagaimanapun, Dia baru saja memberikan kepada mereka daftar segala sesuatu yang akan terjadi kepada mereka dalam ayat 17-23. Dalam ayat 24 dan 25 Dia kemukakan bahwa mereka tidak akan melebihi Dia tetapi akan dianiaya seperti Dia. Dan Dia sudah tahu bahwa kehidupan-Nya menuju ke salib Romawi. Tetapi Dia menginstruksikan para murid-Nya agar “tidak takut.”

“Tidak takut” dan alasan-alasannya akan menjadi bagian utama khotbah Yesus mengenai misi, secara spesifik diucapkan tiga kali dalam ayat 26, 28, dan 31. Fakta yang nyata adalah bahwa dari sudut pandang manusia, para pengikut Yesus akan bertemu dengan banyak perkara yang dapat menimbulkan ketakutan, karena mereka akan menghadapi penolakan, penganiayaan, dan bahkan maut. Tetapi masih saja Dia memberitahu mereka agar “tidak takut.”

Di sini kita semua yang sudah menerima Kristus perlu mendengarkan baik-baik. Kita sering mengalami keringat dingin atau lambung terasa terbalik-balik (tanda-tanda takut) apabila kita sedikit saja ditolak karena kepercayaan kita atau apabila kita harus bicara membela agama kita dalam konteks yang sulit. Dan jika apa yang Yesus katakan itu benar, maka keadaan akan menjadi jauh lebih buruk lagi. Tetapi Dia berkata, “tidak takut” atau “jangan takut.” Bagaimana Dia bisa begitu yakin akan perintah itu? Bagaimana Dia dapat berkata “jangan takut” di hadapan segala hal yang nyata-nyata marak dengan bermacam-macam unsur yang menimbulkan rasa takut?

Di dalam ayat 26-31, Yesus memberikan tiga jawaban yang kuat kepada pertanyaan-pertanyaan yang krusial itu. Pertama, kita tidak perlu takut “karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui” (Mat. 10:26).

Dengan perkataan lain, keadaan tidak akan selalu seperti keadaannya sekarang. Kita melihat perkara-perkara yang samar sekarang ini, tetapi di masa depan kita akan melihat semua itu sebagaimana adanya. Kemudian kebenaran akan menang dan Allah beserta umat-Nya akan berdiri dan dibuktikan tidak bersalah. Pada saat itu, nantinya prinsip-prinsip sang penganiaya dan kepahlawanan umat Kristen sebagai saksi yang percaya akan memperlihatkan nilai sesungguhnya, dan masing-masing akan memperoleh imbalan yang patut didapatnya.

Para saksi Kristus boleh saja “tidak takut” karena mereka mengetahui bahwa penghakiman kekekalan akan memperbaiki penghakiman sang waktu.
 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan