Kita Mempunyai Seorang Pengantara

"Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yohanes 2:1, 2).

“Kita mempunyai seorang pengantara.” Inilah gagasan sama seperti kemarin yang mengatakan bahwa Yesus “hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” yang datang kepada-Nya (Ibr. 7:25). Kedua ayat itu sesungguhnya mengacu kepada hal yang sama-Dia adalah pengantara kita.

Tetapi di dalam 1 Yohanes kita menemukan sebuah sambungan dan pengisi arti pengantara yang dimaksudkan dalam Ibrani 7:25. Konteks 1 Yohanes 2:1, dengan pernyataan bahwa Yesus pengantara kita, adalah masalah dosa. Ayat yang sama memberitahu kita bahwa kehendak Allah adalah kita tidak berbuat dosa.

Itu baik-baik saja. Tetapi Yohanes, sebagaimana para penulis Kitab Suci yang lain, mengetahui bahwa semua orang berbuat dosa, walaupun maksud mereka baik dan berusaha menjadi ideal di mata Allah. Itulah mengapa di dalam beberapa ayat sebelumnya dia menulis, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1 Yoh. 1:8). Kita menemukan keterusterangan yang sama di ayat 10, di mana sang rasul menyatakan bahwa “jika kita berkata, bahwa kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” Kedua ayat itu mengapit ayat 9, yang dengan jelas dan sederhana menyatakan “jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

Yohanes seorang yang realistis. Dia tidak berkata secara tidak langsung mengenai keberdosaan manusia. Mengakui dosa-dosa kita adalah perbuatan yang benar dan cara yang harus kita tempuh daripada menyangkal.

Di dalam konteks itulah Yohanes berkata bahwa orang-orang berdosa mempunyai seorang pengantara kepada Bapa. Konteks itu juga membantu kita mengerti arti pengantaraan Yesus. Apabila kita berada di bawah kuasa Roh Kudus yang membuat kita mengakui bahwa kita berdosa, maka para pendosa akan penuh keberanian menghampiri takhta Allah dengan doa pengakuan dan pertobatan. Yesus, Penakluk yang sudah bangkit, menjelaskan kepada Allah bahwa mereka sudah menerima-Nya dalam iman. Pada saat itu Dia berdua dengan Bapa bersedia mengampuni orang berdosa yang menyesal dan bertobat berdasarkan pengorbanan yang mendamaikan dari Kristus yang dilakukan-Nya di atas kayu salib (1 Yoh. 2:2).

“Kita mempunyai seorang pengantara”! “Dia sanggup”! Kita dapat “dengan penuh keberanian” menghampiri takhta. Dan kita meninggalkan kehadiran Allah dalam keadaan telah diampuni dan dibersihkan. Amin!

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan