MENGAJAR DALAM PERUMPAMAAN

“Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka”(Matius 3:1-3).

Pada pertengahan pelayanan Yesus, kita menemukan dua transisi. Yang satu berkaitan lokasi dan yang kedua tentang metode-Nya mengajar.

Pengajaran awal Yesus sebagian besar dilakukan dalam rumah ibadat. Hal itu dapat dimengerti, karena itulah tempat orang Yahudi berharap mendengar Firman Allah dijelaskan. Tetapi pertentangan terhadap ajaran Yesus sebaiknya membuat Dia lebih berhati-hati untuk menghindari tempat-tempat yang bagi-Nya sudah menjadi ajang konfrontasi. Di luar itu, popularitas-Nya bagi orang banyak begitu meningkat sehingga tidak ada rumah ibadat yang mampu menampung massa sebanyak itu. Jadi dalam Matius 13 kita menemukan Dia mengajar di tepi danau.

Yesus bukan saja memeroleh jalur baru untuk pengajaran-Nya, tapi juga metodologi baru: “Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka.” Bukannya Dia tidak pernah menggunakan perumpamaan sebelumnya, tetapi begitu pertentangan meningkat maka Dia makin menggunakan perumpamaan.

Yesus bukan guru Yahudi pertama menggunakan perumpamaan, Klyne R. Snodgrass menulis, “Tetapi tidak ada bukti bahwa ada orang sebelum Yesus menggunakan perumpamaan secara begitu konsisten, kreatif dan efektif seperti Dia lakukan.”

Ada orang dengan tepat menggambarkan sebuah perumpamaan sebagai “kisah duniawi dengan arti surgawi.” Perumpamaan itu menggunakan ilustrasi dari sesuatu yang familiar di sekitar itu untuk membantu orang-orang mengerti realita surgawi atau spiritual.

Mengajar dengan perumpamaan memiliki beberapa kelebihan dan keuntungan. Perumpamaan itu aman. Dengan adanya orang-orang yang memerhatikan Dia untuk menghancurkan-Nya, oleh menggunakan perumpamaan maka Yesus dapat mengajar dengan cara yang tidak membuat musuh-musuh-Nya terlalu marah atau memberikan mereka kata-kata konkrit yang dapat mereka gunakan untuk menjatuhkan-Nya.

Keuntungan kedua adalah bahwa orang suka mendengar cerita-cerita, dan umat Yahudi zaman dulu tidak terkecuali. Setiap pengkhotbah paham akan kuasa sebuah cerita untuk mendapatkan perhatian.

Tetapi kemungkinan nilai terbesarnya adalah kelestarian pengajaran yang termaksud di dalam perumpamaan. Dengan baik Ellen White mengutarakannya, “Setelah itu, ketika mereka memandang obyek-obyek yang mengilustrasikan ajaran-ajaran-Nya, mereka teringat akan kata-kata sang Guru Ilahi. Bagi pikiran-pikiran yang terbuka kepada Roh Kudus, arti ajaran-ajaran Juruselamat makin lama semakin dimengerti. Misteri-misteri menjadi jelas, dan yang sangat sulit dimengerti menjadi nyata” (Christ’s Object Lessons, hlm. 21).

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan