MENEGASKAN KEMBALI ARTI KELUARGA

"Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: ‘Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku'" (Markus 3:34,35).

Adalah upaya keluarga-Nya untuk mengendalikan Dia yang membuat-Nya menegaskan kembali arti keluarga. Sebuah pendapat yang terselip di balik interpretasi ulangnya tentang keluarga adalah bahwa hubungan-hubungan tertentu sesungguhnya lebih dekat daripada hubungan darah. Ikatan-ikatan seperti itulah yang mempersatukan orang-orang seperti Matius, si pemungut cukai dan Simon dari kelompok Zealot. Di dalam pengalaman mereka sebelumnya, mereka lebih suka menyambut kematian masing-masing. Tetapi sekarang mereka adalah bagian persaudaran kelompok inti Yesus. Bilamana mereka berbagi bersama, yaitu iman, dedikasi, tujuan, dan pengalaman-pengalaman, maka itu menyatukan mereka dengan kokoh bersama murid-murid lainnya sebagai suatu keluarga di dalam Yesus yang lebih intim tanpa batas bagi-Nya daripada keluarga di mana Dia dilahirkan.

Ada dua gagasan mendasar yang mengalir ke luar dari interaksi Yesus mengenai masalah keluarga dalam Markus 3. Yang pertama adalah bahwa mereka yang mengikuti Yesus nantinya akan menemukan pertentangan dengan mereka yang hidup menurut prinsip-prinsip pangeran dunia ini.

Hal ini tentu saja sudah pasti seperti pengalaman Yesus. Dalam keinginan-Nya untuk memenuhi prinsip-prinsip Allah dengan sepenuh hati, Dia bukan saja berpapasan dengan pertentangan tentang otoritas religius maupun sekuler, tetapi juga dengan keluarga darah-daging-Nya sendiri.

Ajaran Yesus tentu saja sangat bermakna bagi para pembaca pertama Markus. Karena mereka Kristen, maka mereka juga sudah menghadapi penolakan oleh keluarga-keluarga mereka, penganiayaan, dan bahkan kema-tian-kematian yang tragis. Tetapi sekarang mereka mempunyai keluarga baru, saudara-saudara laki-laki dan perempuan dalam iman yang berbagi nilai-nilai mereka.

Dinamika penolakan kedua keluarga dan diturutsertakan dalam keluarga Allah masih merupakan bagian gereja pada abad kedua puluh satu. Dan juga masih tetap berharga.

Gagasan mendasar kedua yang muncul dari Markus 3:34,35 adalah bahwa dasar untuk membangun keluarga baru Allah dalam Yesus mengikuti kehendak Allah: “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Dalam dedikasi sedemikian rupa, Yesus mengakui hubungan keluarga yang sejati. Dia mengidentifikasikan suatu ikatan persatuan yang menembus hubungan-hubungan duniawi dan akan bertahan sepanjang kekekalan.

Puji Tuhan bahwa saya boleh menjadi bagian keluarga Allah!

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan