DENGAN BERANI MENGHAMPIRI TAKHTA ALLAH

“Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibrani 4:14-16).

Salah satu kebenaran di dalam Perjanjian Baru adalah bahwa kita “mempunyai Imam Besar Agung” yang melintasi atmosfir dan bintang-bintang langit pada waktu kenaikan-Nya untuk bertemu Allah.

Dialah Putra Allah, dengan demikian memiliki akses kepada Bapa. Tetapi Yesus lebih daripada Sosok Ilahi “di luar sana.” Pada waktu penjelmaan-Nya, Dia menjadi “Allah menyertai kita” (Mat. 1:23). Sehingga, Dia dapat “bersimpati dengan kelemahan-kelemahan kita” karena Dia “di segala hal telah dicobai seperti kita.” Yesus mengerti kita dalam cara-cara yang mustahil andai Dia tidak turut mengalami penderitaan dan kesengsaraan kita. Di sini ada Pribadi unik-yang memiliki akses kepada Allah maupun kepada setiap manusia. Di hal ini, Dia menjadi penghubung antara manusia yang penuh dosa dan Allah yang suci. Maka Dialah Imam Besar kita-jembatan antara dua dunia yang sangat berbeda.

Kita seharusnya jangan pandang enteng melewatkan kemanusiaan Yesus yang disorot di ayat hari ini. Di dalam dunia Yunani ke dalam mana Yesus dilahirkan, gagasan tentang Allah bahwa Dia terpisah dari umat manusia. Philo (teolog/ahli falsafah sezaman Yesus dan para rasul) mengembangkan keterpisahan itu dalam pribadi imam besar ketika dia menulis bahwa secara perorangan yang demikian perlu “untuk memperlihatkan bahwa dirinya sendiri lebih superior daripada belas kasihan, dan melewatkan seluruh hidupnya terbebas dari segala macam duka” (The Special Laws 1:115).

Yesus jelas sekali adalah sebaliknya dari pemikiran Yunani. Dia menjadi darah dan daging dan menderita berbagai pencobaan seperti kita. Oleh karena itu, Dia mengerti kita, Dia adalah salah satu dari kita-kita adalah Saudara Laki-laki dan Perempuan-Nya (Ibr. 2:10). Karena pengalaman itulah maka Dia dapat bersimpati dengan kita ketika kita menghadapi berbagai pencobaan dan ujian, dan bahkan maut-Dia sudah melintasi semua perkara itu.

Oleh karena itu, kitab Ibrani memberitahu kita, kita dapat “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia” untuk menemukan belas kasihan dan kasih karunia di saat kita berada dalam kesukaran. Karena kita mempunyai Imam Besar yang demikian maka pintu-pintu Bait Allah surgawi terbuka lebar bagi kita. Tak peduli betapa gelapnya dosa kita, tak peduli betapa dalamnya kepedihan kita, tak peduli seberapa besar kekecewaan kita, kita disambut dengan baik di takhta Allah oleh Imam Besar yang benar-benar mengerti kita.

Hari ini ketika kita menunduk di hadapan takhta Yang Mahakuasa, marilah kita memuji Dia sehingga kita dapat menghampiri dengan “penuh keberanian” dan bukan dengan ketakutan atau keraguan. Imam Besar kita ada di sana, selalu bersedia membantu kita.

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan