Perjanjian dengan Abraham

“'Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak.’... 'Dari pihak-Ku, Inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham,, karena engkau telah Kutetapkan: menjadi bapa sejumlah besar bangsa’” (Kejadian 17:2-5).

Kejadian 17 dikenal sebagai pasal perjanjian. Lebih dari 10 kali dalam pasal ini kata "perjanjian" digunakan oleh Allah untuk menggambarkan fakta unik yang Dia bangun dengan Abraham.

Sebenarnya dalam lima pasal sebelumnya dalam Kejadian 12:1-3, perjanjian itu meteraikan. Dan apa tanggapan hamba-Nya untuk tantangan Allah? Ayat 4 dari pasal 12 berbunyi: "Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya."

Betapa suatu demonstrasi persahabatan yang mengagumkan! Tuhan mempercayai Abram, dan Abram percaya kepada-Nya; ia meninggalkan semua kenyamanan keluarga dan negara dan suku dalam ketaatan yang buta kepada perintah Allah. Jadi percaya adalah imannya, "TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran" (Kej. 15:6). Namun iman Abram tidaklah sempurna. Imannya, meskipun perkasa, bukanlah tidak dapat ditaklukkan; hal itu terlihat dari ketidakpercayaannya terhadap janji lahirnya seorang anak di usianya yang lanjut (Kej. 17:16,17).

Namun, ketika dia menyaksikan kekuatan mukjizat Allah bekerja dalam kelahiran Ishak, iman percayanya, yang sudah perkasa, disempurnakan. Karena itulah ia mampu lulus ujian tertinggi: Kerelaan untuk mengorbankan anak perjanjian (Kej. 22:1-16). Bagaimanakah Allah menanggapi demonstrasi iman Abram yang sempurna? Perjanjian diulang kembali, dan namanya diubah dari Abram kepada Abraham.

Allah mengubah nama Abram menjadi Abraham; nama Yakub menjadi Israel; dan nama Saulus menjadi Paulus. Namun, hal ini tidak menunjukkan bahwa mereka telah mencapai keadaan yang mutlak atau sepenuhnya sempurna. Baik iman maupun karakter mereka siap untuk pertumbuhan. Mereka seringkali setelah itu dicobai, dan dalam beberapa kasus mereka gagal. Tetapi mereka tetap bertahan dan digunakan oleh Allah sebagai alat keselamatan.

Pemeliharaan sehari-hari membawa kita semua kepada situasi yang menuntut ketaatan yang penuh percaya. Meskipun kita, seperti mereka, kadang-kadang goyah, jika kita bertahan dalam pengabdian dan penurutan setiap hari kepada Firman-Nya, kita juga akan menjadi dan tetap sahabat Allah—ahli waris dari korban perjanjian hidup.
 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan