"Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: ‘Semua itu akan kuberikan kepada-Mu,jika Engkau sujud menyembah aku. Maka berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!'" (Matius 4:8-10).

Berapakah harga Anda? Sampai keadaan bagaimana Anda bersedia menyerah-menjual diri Anda-kepada Iblis? Setan mengerti semua dari masing-masing kita. Dia tahu bahwa beberapa orang akan jatuh jika dia menawarkan $5. Bagi orang lain bisa saja harganya $500. Tetapi kepada orang lain dia harus menawarkan $5.000, atau $5 juta, atau bahkan $5 miliar. Bagaimanapun, dia sarankan Anda hanya perlu melakukan satu kali saja. Dan Anda tentu saja bisa bertobat di kemudian hari. “Mengapa tidak?” pikiran kita memberitahu kita. Jika tidak menerima tawaran ini, orang lain akan menyabetnya.

Berapakah nilai Anda runtuh? Berapakah harga Anda? Orang menghabiskan sebagian besar waktu mereka membahas bagaimana Kristus dapat dicobai persis seperti kita. Saya ingin sarankan bahwa Dia dicobai jauh melewati apa yang kita akan pernah hadapi. Pikir saja, kita tidak pernah merasakan dampak sepenuhnya pencobaan, karena apabila Iblis tiba pada harga kita maka kita setuju dan menyerah lalu memilih tawarannya.

Tetapi lebih penting lagi, Kristus memiliki kapabilitas yang jauh melampaui kapabilitas kita. Dia dicobai jauh melebihi apa yang manusia mungkin pernah bisa tanggung, karena Yesus sesungguhnya memiliki kuasa Allah di dalam ujung jari-Nya dan bukan pada ujung jarinya.

Di dalam pencobaan terakhir bagi Yesus, Iblis tidak tanggung-tanggung. Dia membisikkan tujuan untuk apa Dia datang ke bumi. Dia bisa menjadi Penguasa dunia jika Dia mau saja sujud dan menyembah Setan-sekarang, dan tanpa kayu salib.

Tetapi Yesus sudah bertekad sepenuhnya untuk menyembah dan menaati Allah saja. Dia tidak akan merasakan kekuatan sepenuhnya lagi dari pencobaan sampai Getsemani, ketika Dia sekali lagi bergumul agar tetap berserah kepada kehendak Bapa.

Yesus pergi menyongsong pencobaan-pencobaan itu dengan ketegangan-ketegangan antara modus seorang Raja yang menang dan Hamba yang Menderita mengiang-ngiang dalam telinga-Nya (Mat. 3:17). Tetapi dia keluar dari pengalaman itu dengan keputusan yang bulat. Dia akan mengikutii jalan Allah sebagai Hamba yang menderita, jalan setapak yang akhirnya menuju ke kayu salib. Sekarang Dia siap untuk memasuki pelayanan-Nya yang formal.

Pada jenjang yang jauh lebih rendah, pencobaan bergulir dengan cara yang sama di dalam kehidupan kita seperti di dalam pencobaan Kristus. Pencobaan bukan saja sekadar terpikat oleh dosa ini atau dosa itu. Bukan. Pada dasarnya, pencobaan berkaitan dengan siapa yang akan kita ikuti sebagai Tuhan bagi kehidupan kita.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan