GARAM TIDAK PERNAH KEHILANGAN RASANYA

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang" (Matius 5:13).

Dengan ayat 13, Yesus menggeser penjelasan-Nya tentang karakter Kristen kepada sebuah bagian pendek tentang pengaruh Kristen. Tetapi keduanya berhubungan erat. Pengaruh seorang Kristen bergantung pada karakter. Tanpa karakter “Kristen” maka tidak akan ada pengaruh “Kristen.” Supaya efektif, maka garam itu harus asin.

Garam punya banyak fungsi. Masyarakat yang tidak memiliki lemari es, akan menggunakan garam sebagai pengawet. Tetapi supaya efektif, garam harus meresap masuk ke dalam makanan. Garam yang diletakkan sepersekian inci terpisah dari makanan tidak dapat mengawetkan atau menambah rasa.

Yesus menggambarkan umat Kristen sebagai “garam dunia.” Dia tidak memerintah kita agar menjadi garam, tetapi telah menyatakan satu fakta-"Kamu adalah garam.” Umat Kristen berfungsi sebagai garam oleh berbaur dengan budaya sekitar. Hanya dengan demikian mereka dapat mengeluarkan peran yang telah diberikan Allah untuk mengawetkan dan memberi rasa pada masyarakat mereka. Walau umat Kristen sering tidak menyadarinya, kehidupan sehari-hari mereka melunakkan orang-orang dan masyarakat sekitar mereka sementara mereka melakukan Ucapan Bahagia. Mereka “memberikan rasa” kepada dunia melalui kebaikan-kebaikan kecil yang mereka perlihatkan, kerendahan hati yang mereka tunjukkan, dan sebagainya. Bahkan orang-orang sombong dan keras sering kesulitan untuk tidak menghargai umat Kristen yang benar, walau mereka tidak ingin berusaha menyamai mereka. Dengan demikian, satu efek pengaruh Kristen adalah menghambat kemerosotan pribadi dan sosial yang Paulus dengan tepat gambarkan dalam Roma 1:18-32.

Garam adalah garam! Garam itu asin! Tanpa rasa asin itu, maka bukan garam!

Kalau begitu, bagaimanakah garam dapat kehilangan rasa asinnya? Tidak bisa. Jika tidak asin, maka itu bukan garam. "Jadi bagaimana?” Anda mungkin saja bertanya sekarang. “Apakah artinya bagi hidup saya?”

Artinya segala-galanya. Karena umat Kristen tidak bisa memilih untuk tidak menjadi garam, maka satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan adalah memilih untuk tidak berfungsi sebagai garam, menolak peran garam yang telah Allah berikan.

Dan bagaimanakah dapat saya lakukan itu? Dengan bersikap tidak seperti Yesus, yang hidup dan mati untuk kebaikan orang lain. Dengan tidak mau berbaur bersama dunia dan menyumbangkan pengaruh yang awet. Dengan pilihan-pilihan demikian maka orang akan kehilangan rasa asinnya. Mereka bukan lagi garam (bukan lagi Kristen). Itulah yang telah menjadi sebagian masalah, dan bukan solusinya.

Makna kisah ini sederhana saja. Prinsip apa yang kita terima di dalam kehidupan kita dan bagaimana kita berhubungan dengan sesama dalam hidup sehari-hari, itu akan membuat perbedaan.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan