Domba Pengganti

“Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: 'Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak domba Paskah"' (Keluaran 12:21).

Bayangkan sakitnya orangtua dan anak-anak yang disebabkan oleh membunuh  anak domba. Seringkali korban hewan tidak hanya salah satu dari kawanan tetapi domba yang telah diamati dan dipelihara selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan; domba dikenal karena karakteristik fisik dan kepribadiannya; domba yang telah diberi nama, dielus, dan diajak bercanda dan belajar untuk mengikuti keluarga di tempat kerja dan bermain.

Sekarang makhluk yang tidak menaruh curiga ini terbuai dalam pelukan sang ayah. Kepalanya ditarik dan leher berbulu terbuka untuk disayat Matanya yang penuh percaya fokus kepada mereka yang baik seumur hidupnya yang sedang menutup giginya dan menyayat dengan cepat pisau bergerigi melalui bulu tebal dan daging anak domba itu; dan dengan cepat menarik pisau dari pembuluh darahnya, yang dengan segera mengeluarkan aliran darah hangat yang banyak Saat mata binatang itu tertutup dalam kematian, tubuhnya mengejang dalam gerakan tubuh yang mengerikan sementara orang yang menyayatnya menangis menundukkan kepalanya dalam kesedihan dengan tidak dapat berbuat apa-apa.

Itulah yang terjadi di Kalvari di mana Korban bagi kita mati Sepanjang hidup-Nya  di bumi Dia dan Bapa telah menjadi satu. Mereka telah bekerja sama dan berfungsi sebagai pasangan mitra dalam rencana besar keselamatan. Tetapi di sana, di Taman Getsemani Dia mengambil dosa-dosa kita bagi diri-Nya, dan Tuhan telah berjanji untuk menghukum dosa di mana pun Dia menemukan dosa, dan telah menganggap Dia sebagai musuh. Dengan menarik dosa dan pelanggaran kita kepada diri-Nya yang sempurna, Dia menjadi objek murka Bapa. Bapa, yang membenci dosa dan berdedikasi untuk pemberantasan dosa dari alam semesta yang murni, menghukum-Nya sebagai dosa—Yesus, yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita" (2 Kor. 5:21).

Bapa tidak bisa menyelamatkan Dia dan kita, sehingga Bapa menghukum kita melalui Dia dan mengalami rasa pedih karena ketentuan-Nya dan menyaksikan kematian memalukan Anak-Nya. Tidak ada kasih yang lebih besar, tidak ada pengorbanan berharga daripada hal itu, dan tidak ada pemicu yang lebih tinggi untuk penyucian hidup kita sehari-hari.

Apakah respons kita terhadap pengorbanan ini? Sudah seharusnya menjadi hidup yang mengungkapkan kepada orang lain kasih karunia-Nya untuk mengampuni maupun kuasa-Nya untuk menyucikan.
 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan