KISAH DUA PENGURAPAN

“Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.... Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu.’... Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (Kisah 2:1-41).

Peristiwa besar itu dalam ruang takhta surga pada pengurapan Kristus disertai peristiwa-peristiwa lain yang terjadi bersamaan di bumi yang menandakan suatu kekuatan di bumi melalui kuasa Roh Kudus.

Ellen White menggambarkan hubungan antara kedua pengurapan itu ketika dia menulis: “Kecurahan di waktu Pentakosta adalah komunikasi surga sehingga pengurapan Juruselamat telah dilaksanakan. Sesuai dengan janji-Nya Ia telah mengutus Roh Kudus-Nya dari surga kepada para pengikut-Nya sebagai tanda bahwa Ia, sebagai imam dan raja, menerima segala kekuasaan di surga dan di atas bumi ini, dan telah diurapi menjadi seorang dari umat-Nya” (Alfa dan Omega,jld. 7, hlm 33).

Hari raya Yahudi, Pentakosta, adalah hari pertunjukan terbaik sepanjang tahun. Pentakosta berarti “yang kelima puluh,” dan terjadi 50 hari setelah Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi. Kalender Ibrani menyebutnya Hari Raya Mingguan (karena terjadi tujuh pekan setelah Paskah dan peristiwa-peristiwa terkait) dan Hari Raya Hasil Panen (karena pada hari itu para imam mempersembahkan dua ketul roti gandum sebagai ucapan syukur untuk awal panen gandum).

Pada saat itu (awal Juni) melakukan perjalanan lebih aman dan Yerusalem menjadi tuan rumah untuk kumpulan besar para penyembah dari berbagai bangsa setiap tahunnya. Orang-orang dari seluruh kekuasaan kekaisaran berada di kota itu.

Itulah saat menguntungkan untuk pengurapan Kristus di surga dan permulaan sebuah era baru di bumi. Pada Hari Pentakosta, melalui khotbah Petrus yang penuh kuasa Roh, orang-orang dari berbagai golongan yang bertentangan saling bertemu dan arti “buah sulung” mempunyai pengertian penting sebagai hasil pertama pekabaran Kristen melalui kuasa Roh. Pada hari itu kurang lebih 3.000 orang menerima pekabaran Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Mesias yang telah disalib dan dibangkitkan kembali.

Tetapi Pentakosta hanya awal sebuah era baru dalam pekerjaan Allah. Berkat pengurapan Kristus akan tetap berada dalam gereja-Nya sampai Dia kembali di akhir zaman.

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan