KUASA MEMBUTAKAN HARAPAN YANG GAGAL

“Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: ‘Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?’ Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawabNya: ‘Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?’ Kata-Nya kepada mereka: Apakah itu?’ Jawab mereka: Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi’” (Lukas 24:13-21).

Lukas barangkali pembawa cerita terbesar di Perjanjian Baru. Gambarannya tentang anak yang hilang (Luk. 15) serta kaum Farisi dan pemungut cukai yang berdoa (Luk. 18:9-014), sangat menggerakkan hati dan pikiran kita. Kisah perjalanan ke Emaus setara dengan gambaran lainnya.

Kisah ini diceritakan Lukas tidak sekadar piawai, namun menarik pembaca ke dalam kisah itu. Pentingnya kisah itu juga terletak pada pekabarannya, yang berbicara kepada orang-orang yang kebingungan di akhir zaman.

Kita beberapa kali terkaget karena kebingungan kedua pengikut Yesus itu. Para pengikut-Nya selalu mengenal Dia ketika pemunculan-Nya ke-mudian. Tetapi tidak dalam pemunculan pertama ini. Dengan demikian masalahnya bukanlah bahwa Yesus yang dibangkitkan itu tidak bisa dikenal. Sebaliknya, Lukas memberitahu kita bahwa “ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.”

Sesuatu seperti itu terjadi pada perjalanan ke Emaus. Para murid telah mengharapkan Yesus menjadi penebus Israel dari Roma. Tetapi bukannya membebaskan mereka, Dia mati di bawah tangan orang Romawi. Kebingungan yang membodohkan telah membutakan mata mereka. Maka, mereka tidak dapat mengenal Yesus ketika Dia bersama mereka.

Ini merupakan dorongan bagi kita. Terkadang di dalam menyusuri jalan kehidupan, kita merasa bingung dan kesepian. Dalam keadaan yang seolah-olah hilang itu kita bertanya-tanya di mana Yesus berada. Tetapi seringkali masalahnya bukanlah ketidakadaan-Nya, namun karena kita tidak dapat melihat sesuatu yang hanya dapat menjadi jelas nanti dalam peristiwa-peristiwa berikut dalam pemeliharaan Allah.

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan