AYAT YANG MENYADARKAN

"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”(Matius 7:21).

Ayat hari ini ayat paling mengerikan dalam Perjanjian Baru. Dengan tegas ayat itu menyatakan bahwa saya bisa sesat ketika menyatakan Yesus sebagai Juruselamat saya; bahwa saya bisa tertipu, saya bisa saja berpikir bahwa semua berjalan mulus dan baik pada kehidupan beragama saya, padahal sesungguhnya segala sesuatunya salah.

Matius 7:21 juga salah satu perikop paling serius dalam semua Firman Allah. Yesus tidak main-main. Dia telah memaparkan secara lugas pada khotbah pengukuhan-Nya bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menipu diri mereka sendiri. Sekarang Dia menunjuk kepada saya dan Anda. Kita juga bisa kebingungan dan tertipu seperti para pemimpin Yahudi itu kecuali bila kita mengacuhkan kata-kata-Nya. Tidak ada yang lebih serius dari semua perkataan yang Yesus ajarkan selain pemyataan-Nya dalam Matius 7:21-23. Juruselamat sedang berbicara kepada kita dengan segenap jiwa-Nya. Oelh sebab itu sepatutnya kita mendengarkan dengan saksama.

Manurut ayat 12, tidak semua yang mengaku dirinya orang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat akan diselamatkan. Sebuah pemikiran yang mencengangkan, karena kita tahu selama ini bahwa totalitas keselamatan adalah menyatakan Yesus sebagai Juruselamat. Di sini Yesus mengingatkan kita bahwa keselamatan melibatkan lebih daripada sekadar membuat pernyataan-pernyataan semata.

Dan apakah lagi yang diperlukan? Yesus menjawab pertanyaan itu pada ayat yang sama, ketika Dia berkata bahwa kita harus menjadi pelaku dan bukan sekadar pendengar kehendak Bapa-Nya. Yohanes menguatkan hal tersebut ketika dia tegaskan bahwa dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia, jika kita mengikuti perintah-perintah-Nya dan berjalan sebagaimana dilakukan Yesus (1 Yoh. 2:3-6).

Itulah berita baik. Itulah keyakinan sesungguhnya dari keselamatan. Kita dapat mengetahuinya. Puji Tuhan!

Tetapi apakah arti “melakukan kehendak Bapa”? Di sini kita harus mengingat bahwa konteks Matius 7:21-23 adalah keseluruhan Khotbah di Atas Bukit. Yesus baru saja menyelesaikan Matius 5-7, membentangkan kehendak Allah bagi umat-Nya. Melakukan kehendak Allah adalah hidup mengikuti Ucapan Bahagia; artinya menjadi garam dan terang dunia di dalam komunitas kita; itu berarti mengasihi bahkan musuh-musuh kita dan dengan demikian bersikap seperti Allah; itu adalah melakukan kehendak Allah di dalam kehidupan berdoa dan penatalayanan kita; itu berarti kita mengatur prioritas-prioritas kita secara benar dan meletakkan kepercayaan kita kepada-Nya sesuai dengan keperluan sehari-hari kita dan tidak berfokus kepada hal-hal materi; dan itu berarti menolak menghakimi orang lain, sedangkan pada saat bersamaan kita memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin mereka memperlakukan kita.

Melakukan kehendak Allah berarti menjadi seperti Yesus.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan