LAMBANG DUNIAWI DARI HAL-HAL SURGAWI

"Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah" (Matius 27:51).

Tepat pada saat Yesus berseru “Sudah selesai” dan mati di atas kayu salib, tabir di dalam Bait Allah terbelah dua. Inilah salah satu lambang besar arti kematian-Nya.

Tabir itu memisahkan dua bagian Bait Allah. Hanya imam-imam yang sedang memimpin ibadah dapat masuk ke dalam bagian pertama, yang ditunjuk sebagai Tempat Kudus. Tetapi yang kedua bahkan lebih kudus. Ke dalam Tempat Mahakudus itu hanya imam besar boleh masuk, dan dia hanya masuk sekali dalam satu tahun pada Hari Pendamaian, hari penghakiman akhir tahun umat Israel.

Para penulis Injil dengan saksama mengemukakan bahwa tirai itu robek “dari atas sampai ke bawah.” Kenyataannya bahwa tirai itu kira-kira 60 kaki atau 18 meter tingginya, arah robek yang digambarkan menunjukkan suatu tindakan adikodrati karena manusia yang merobek tirai itu akan melakukannya dari bawah ke atas.

Robeknya tirai seluruhnya itu menunjukkan beberapa hal. Pertama, bahwa upacara-upacara sistem lama dan korban-korban yang menunjuk ke depan (Kol. 2:17) kepada pengorbanan Yesus di atas kayu salib, kini menjadi masa lalu. Karena pengorbanan yang sesungguhnya sudah terjadi di mana Anak Domba Allah sudah mati untuk dosa-dosa dunia (Yoh. 1:29), sistem upacara sudah memenuhi tujuannya. Robeknya tirai menunjukkan bahwa Tempat Mahakudus Bait Allah di dunia ini tidak kudus lagi. Tempat upacara sekarang sudah berpindah ke surga, di mana Yesus akan melayani di dalam Bait Allah “sejati” (Ibr. 8:1,2) sebagai Imam Besar bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Hal kedua yang penting mengenai robeknya tirai itu adalah umat percaya sekarang sudah bisa secara langsung menghadap Bapa melalui pengorbanan Yesus dan melalui pelayanan setelah kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke surga. Sebagaimana dinyatakan Kitab Suci, “Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir.... Karena akses itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh” (Ibr. 10:19-22).

Rusaknya tirai itu lebih jauh melambangkan penggenapan apa yang dikatakan Yesus bahwa Bait Allah di Yerusalem akan “ditinggalkan” oleh Allah dan dibiarkan menjadi “sunyi” (Mat. 23:38). Awal penajisan Bait Allah terjadi dengan terbelahnya tirai. Kejadian itu adalah pertanda kehancuran yang seluruhnya di tahun 70 Masehi.

Terima kasih, Tuhan, bukan saja karena memberi kami Yesus sebagai Juruselamat kami, tetapi juga untuk membuka jalan yang lebih terbuka kepada-Mu melalui kejadian itu.
 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan