Kemenangan di Getsemani

"Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Lukas 22:42).

Ada dua pertarungan dalam perjuangan hidup Yesus dengan Lusifer yang paling jelas menyoroti penderitaan pengorbanan-Nya. Yakni konfrontasi di padang gurun pada awal pelayanan-Nya dan pertarungan di Getsemani pada akhir perjalanan-Nya.

Kemenangan yang diperoleh di padang gurun adalah penting, dalam pertarungan itu Lusifer menegaskan dalam pikirannya kesulitan besar yang ia akan miliki untuk menghalangi Mesias dalam misi-Nya. Hal ini juga menegaskan dalam Yesus intensitas keterlibatan yang menyusul kemudian. Pertarungan di padang gurun itu penting, tetapi Getsemani dalam beberapa hal bahkan lebih menentukan—di sinilah kemenangan-Nya dimeteraikan.

Setan gagal menghancurkan Dia pada saat kelahiran-Nya, gagal menipu-Nya di padang gurun, atau mencegah atau menjatuhkan Dia pada setiap tahap pelayanan-Nya. Adalah karena keputusaannya yang mutlaklah ia menyerang Dia di Getsemani. Segala yang gagal dia capai dalam seluruh pelayanan Juruselamat, ia perjuangkan sekarang untuk mencapainya di jam-jam terakhir ; ia akan menghancurkan segalanya pada waktu yang terakhir. Semua kemenangan Kristus sebelumnya akan dihapuskan, dan Golgota merupakan penipuan, jika di Getsemani, Setan dapat membuat Dia menyerah pada keinginan untuk melarikan diri dari penderitaan, salib yang memalukan dan meninggalkan misi kasih karunia-Nya.

Di Getsemanilah Yesus menjadi penanggung dosa kita; beban setiap dosa yang pernah dilakukan ditimpakan kepada-Nya secara harfiah yang menghancurkan hidup-Nya. Begitu parah rasa sakit itu sehingga dia hampir mati di taman itu jika saja malaikat Allah tidak datang untuk menguatkan Dia, mengatakan kepada-Nya intisarinya, “Bertahan Yesus, Engkau hampir di sana, misi-Mu hampir selesai, Engkau hampir tiba di rumah."

Keteguhan kesetiaan Adam Kedua di bawah tekanan di Getsemani sangat berbeda dengan kesetiaan Adam pertama yang goyah di Eden. Kondisi Eden dan Getsemani sangat berlawanan—hal itu bagaikan kutub utara dan selatan, dan demikian juga tanggapan dari Adam yang mendiaminya. Adam pertama makan di Firdaus dan kehilangan rumah kebahagiaannya; Adam Kedua minum cawan pahit penderitaan dan mengambil alih kembali Firdaus kita yang hilang; Adam pertama meragukan pemeliharaan Sang Pencipta dan menyerah kepada pencobaan; Adam Kedua tidak bisa melihat melampaui kubur, namun percaya kepada kasih Bapa-Nya, dan dengan tindakan ini, dengan kemuliaan Dia menjadi, Adam kita yang rela, menakjubkan, penuh berkat, Adam yang lebih baik.
 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan