POSISI UTAMA YANG SESUNGGUHNYA

"Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: ‘Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang ” (Matius 20:25-28).

Pemikiran yang tepat mengenai Kemesiasan sejajar dengan pemikiran yang benar tentang apa artinya menjadi pengikut Mesias. Dan para murid bermasalah dengan keduanya.

Dosa melahirkan dosa. Ambisi kuat yang salah dari Yakobus dan Yohanes telah menyebabkan iri hati yang sengit di antara para murid lainnya. Kelompok kecil itu telah mencapai titik krisis tepat di nadir Yerusalem dengan salib Yesus. Mereka tercerai berai oleh ketegangan-ketegangan yang kemungkinan bisa permanen memisahkan mereka dan menggagalkan tujuan awal Yesus memanggil mereka.

Kita tidak tahu apakah Yesus terpancing berhenti merespons mereka sebagai murid, menyebut mereka manusia-manusia keras kepala, dan pergi. Tetapi sudah pasti Dia menarik napas panjang ketika Dia, sekali lagi, mengajarkan keduabelas orang itu tentang prinsip-prinsip dasar kerajaan-Nya.

Kali ini fokus-Nya adalah pada kebesaran sejati dan apa arti sesungguhnya menjadi nomor satu. Prinsip-prinsip-Nya yang terbalik merupakan kebalikan prinsip-prinsip dunia pada umumnya. Tidak seperti dunia, di mana yang terbesar adalah para penguasa, tapi di dalam kerajaan surga yang "besar” (mengacu kembali ke permohonan Zebedeus di Mat. 20:20, 21) adalah hamba, dan yang “pertama” (mengacu ke perumpamaan kebun anggur di ayat 1-16) berarti menjadi hamba. Yesus menyimpulkan dengan memberitahu mereka bahwa Dia sendiri datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya.

Dia telah menguraikan konsep kepemimpinan hamba dengan sangat jelas. Betapa disayangkan bahwa di sepanjang sejarah, para pemimpin gereja dan umat Kristen pada umumnya tidak tertarik kepada konsep itu melebihi para murid. Alasannya sederhana: Model kepemimpinan hamba bertentangan dengan sifat manusia. Dalam pelaksanaannya yang berhasil mengharuskan suatu perubahan dan pertobatan.

Yesus sudah menghabiskan banyak waktu untuk tema kembar mengenai salib-Nya dan salib kita. Tetapi masih sama sulitnya untuk membuat prinsip itu tertanam di zaman sekarang seperti keadaannya 20 abad lalu.

Tuhan, ambillah telinga saya dan bantu saya mendengar. Ambil nyawa saya dan hidupkan prinsip-prinsip-Mu pada hari ini dan esok hari dan setiap hari. Amin.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan