Berdiri di Tanah yang Suci


“Lalu Ia berfirman: ‘Janganlah datang dekat-dekat: tanggaIkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri ltu adalah tanah yang kudus.’ Lagi Ia berfirman:Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan  Allah Yakub.’ Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah"
(Keluaran 3:5, 6).

Pada saat panggilan resminya untuk melayani, Musa diperintahkan untuk menanggalkan kasutnya di hadapan Tuhan. Pendidikannya di Mesir memberi dia keunggulan yang besar; dia adalah, penyair, sejarawan, filsuf, legislator, dan ahli strategi militer, seorang pria yang bermartabat dan mulia. Tetapi sekarang, di semak yang terbakar, ia berhadapan dengan Seorang yang lebih besar daripada dia, dan di hadapan-Nya dia diperintahkan untuk menunjukkan kepatuhan dan rasa hormat.
Kekuasaan tidak lagi memerintah kita; kita tidak lagi tunduk hormat di hadapan raja dan kekuasaan. Hubungan subjek yang berdaulat, berhasil ditantang dan diberhentikan oleh Revolusi Prancis, sebagian besar merupakan konsep yang pudar dari sejarah. Kita memilih pemimpin kita yang menjabat, dan, ketika kita memilih, kita mengusulkan mereka Kita bahkan bisa menuntut atau mendakwa mereka Sebagian besar negara-negara yang mempertahankan ciri pemerintahan yang berhubungan dengan kerajaan melihat mereka lebih sekadar hubungan nostalgia kepada masa lalu daripada otoritas yang relevan sekarang ini.
Semua hal ini membuat sulit bagi orang modern untuk berpikir jika diri mereka merupakan milik atau dikendalikan oleh makhluk superior. Namun ti_dak ada cara yang lebih jelas untuk mengekspresikan hubungan “pencipta-ciptaan”. Dia adalah penguasa alam semesta—Dia adalah Allah, raja kita. Dialah saat ini yang berdaulat dan memiliki otoritas tertinggi atas kita seperti ketika Musa berdiri dengan kaki telanjang di hadapan semak yang terbakar.
Dan bagaimana cara terbaik, tanpa contoh subjek kedaulatan kontemporer untuk memberi informasi kepada persepsi kita, apakah kita cukup berhasil dan, mempertahankan citra ini? Kita melakukannya dengan mempelajari Firman Allah yang dengannya kita mendapat pengaruh lagi dan lagi: “Penguasa-hamba,” “tuan-budak,” dan “raja-penduduk” hubungan yang Tuhan pertahankan dengan semua makhluk di dunia-Nya. Tetapi yang paling memberi dampak, adalah ketika kita dipengaruhi oleh pengorbanan-Nya yang tak terkatakan, yang telah mati untuk menyelamatkan dunia kita yang hilang, Ketika tindakan yang penuh kasih itu menangkap hati kita, kita akan dengan cepat melepaskan sepatu usaha kita dan menerima dari Dia petunjuk dan hikmat dan kuasa, dan dengan rendah hati mendengar dan mengikuti keinginan-Nya bagi hidup kita.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan