Kasih Karunia Ditinggikan

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas” (Lukas 4:18, 19).

Selain untuk mengungkapkan keadilan Allah, kesaksian Kristus mendengungkan dukungan kepada kasih karunia Bapa. Selama 4.000 tahun campur tangan Allah di antara kegagalan Adam pertama hingga kebenaran Adam kedua, Ketuhanan menunjukkan banyak bukti akan kasih-Nya. Pelangi yang melengkung di langit setelah air bah, Shekinah yang menerangi permukaan tabut, tongkat Harun yang bertunas dan manna yang disimpan dalam tabut hanyalah beberapa pengingat yang dapat dilihat bangsa Israel atas perlindungan dan pemeliharaan Tuhan.

Sejak kejatuhan kita yang penuh dosa di Eden kepada mata air kesucian yang dicurahkan di Kalvari, secara garis besar kita melihat keadilan Allah. Catatan Perjanjian Lama mengenai sejarah keselamatan diisi dengan kisah yang mengandung kebenaran bahwa “Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa” (Ams. 14:34), bahwa memang “apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (lihat Gal. 6:7). Seolah-olah kasih karunia menyembunyikan dirinya dalam kedamaian di langit sedangkan keadilan memerintah tak terkendali dalam perkara di bumi.

Dengan kedatangan Yesus skenario itu diubah secara radikal; sekarang terlihat bahwa hukum keadilan yang tegas digantikan dengan prinsip belas kasihan yang lembut. “Perubahan penjaga” ini berulangkah ditunjukkan dalam pembalikan Yesus atas petunjuk sebelumnya sehubungan dengan perilaku manusia. Kata-katanya “Kamu telah mendengar firman,... Tetapi Aku berkata kepadamu” menggantikan “mata ganti mata” keadilan Perjanjian Lama dengan “kasihilah musuhmu” penekanan kasih karunia dalam Perjanjian Baru (Mat. 5:38-48).

Kristus tidak mengabaikan tuntutan keadilan. Tetapi dorongan utama-Nya adalah kasih karunia. Yakni kasih karunia bagi orang jahat, kasih karunia bagi wanita yang didapati melakukan perzinaan; kasih karunia bagi orang lumpuh yang dosa-dosanya Dia ampuni; kasih karunia bagi orang yang kecewa seperti yang Dia ajar di rumah ibu mertua Petrus; kasih karunia bagi orang yang dilahirkan buta; kasih karunia bagi janda di Nain; kasih karunia bagi wanita putus asa yang menyentuh ujung jubah-Nya—Dia adalah jelmaan kasih karunia. Dan meskipun kematian-Nya adalah terutama untuk tuntutan keadilan, kematian-nya juga merupakan seruan tertinggi kasih karunia. Lebih jauh lagi, kematian-Nya merupakan daya tarik terbesar bagi orang berdosa dan dorongan terkuat bagi orang percaya untuk mengabdi dengan setia dan melayani.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan