Bejana Pembasuhan

"Ditempatkannyalah bejana pembasuhan di antara Kemah Pertemuan dan mezbah itu, lalu ditaruhnyalah air ke dalamnya untuk pembasuhan" (Keluaran 40:30).

Selain mezbah pembakaran korban, pada pelataran luar juga terdapat bejana, yang terdapat “air untuk membasuh.” Dengan membasuh dalam bejana yang diisi dengan air, imam menyatakan dalam bentuk ritual prinsip kebersihan yang perlu diperhatikan oleh semua yang melakukan pelayanan bagi Tuhan. Ini adalah inti dari pertanyaan pemazmur: “'Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?’ Dan jawabannya yang tepat adalah: ‘Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu'” (Mzm. 24:3,4).

Mereka yang diterima adalah mereka yang pergi melakukan tugas-tugas mereka di rumah, di sekolah, dalam masyarakat, dan di tempat lain dengan usaha yang berdedikasi dan antusias. Sementara pelayanan energik sangat penting untuk produktivitas, pelayanan itu tidak membawa kebaikan kekal dari upah surgawi jika tidak disertai dengan motif yang tidak mementingkan diri. Dan, apakah sumber dari motif seperti itu—Firman Allah. Hanya dari sumber ini saja kita dapat menerima baik visi dan kekuatan untuk hidup maupun bekerja dengan semangat tanpa pamrih.

Pesan ini diberikan dalam pengamatan Paulus bahwa: “Sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman” (Ef. 5:25,26), dan diperluas dalam kesimpulannya kemudian bahwa “bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus" (Tit 3:5).

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan