Allah di Tengah-tengah

"Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka."(Keluaran 29:45)


Pelayanan bait suci Israel kuno dilalaikan di dua wilayah utama: Pelataran luar (wilayah yang lebarnya 75 kaki dan panjangnya 150 kaki) dan kemah tertutup (lebarnya 15 kaki dan panjangnya 45 kaki), yang terdiri dari bilik suci dan bilik yang mahasuci. Awalnya tenda itu mudah dipindah-pindah—bagian-bagiannya yang saling terhubung dimungkinkan dibongkar dan pemasangan kembali dengan mudah oleh bangsa pengembara. Berabad-abad kemudian, pada zaman Salomo, bait suci yang mudah dipindah-pindahkan digantikan oleh bait suci permanen atas nama Salomo, pembangun yang terkemuka, dan ketika diperlukan perbaikan, dibangun oleh Zerubabel.

Lokasi tempat kudus selama bertahun-tahun dalam barisan melingkar bangsa Israel adalah di tengah-tengah pengaturan suku itu. Di sebelah timur berkemah suku Yehuda, Isakhar dan Zebulon; sebelah barat, suku Efraim, Manasye,dan Benyamin; sebelah selatan, suku Ruben, Simeon, dan Gad; dan sebelah utara,suku Dan, Ashur, dan Naftali. Tuhan benar-benar diam di tengah-tengah atau pusat mereka.

Tidak perlu lagi bangunan portabel atau pun permanen di mana darah dipersembahkan dan imam berjenggot berbicara kepada Allah atas nama umat yang menunggu. Namun demikian, Allah masih berdiam di tengah-tengah umat-Nya. Israel modern tidak kalah penting sebagai objek perhatian-Nya daripada suku Israel kuno. Memang benar seperti kepada kita, demikian-juga kepada mereka, bahwa meskipun kita penuh kekurangan dan kegagalan, kita masih “satu-satunya objek di bumi yang untuknya Kristus melimpahkan penghargaan-Nya yang tertinggi" (Testimonies to Ministers, hlm. 49).

Bagaimanakah Dia tinggal di antara kita? Melalui Roh Kudus-Nya! Tidak satu pun bagian dan partikel yang membentuk bait suci menjadi bangunan yang mengesankan tetap ada di zaman ini. Allah yang berbicara melalui upacara-upacara itu sekarang berbicara melalui Roh-Nya—yang sementara terbukti sebelum Kalvari, sejak tugas khusus-Nya sebagai Penasihat dan Penuntun kita. Keselamatan kita dan keberhasilan sebagai individu, keluarga, gereja, dan sebagai lembaga secara langsung merupakan bagian dari kesediaan kita untuk mengenali dan dengan setia menanggapi kehadiran-Nya di antara kita, Ini adalah “bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku” (Zak. 4:6) sehingga kehidupan sehari-hari selalu bahagia dan produktif

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan