Bait Suci Bertumbuh
"Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan” (Efesus 2:21).

Bait suci yang manakah yang dimaksud Paulus? Itu adalah gereja Allah yang hidup. Itu bukanlah jemaat atau jemaat tertentu, tetapi orang kudus yang universal—semua orang di mana saja dari bagaimana pun gambaran fisik atau geografisnya yaitu yang mengasihi Tuhan dan melayani Dia dengan cara yang terbaik dari seluruh pengetahuan dan kemampuan mereka.

Gereja universal Allah telah berkembang dari “biji sesawi” awal Kekristenan mula-mula hingga menjadi sistem yang berkembang semakin luas seperti sekarang ini. Umat yang memelihara hukum Allah, bagian kecil tetapi bagian penting dari sistem itu, telah mengembangkan dirinya dari asal-usulnya yang sederhana pada pertengahan abad kesembilan belas menjadi jangkauannya yang mendunia seperti sekarang. Gereja ini telah berkembang dari sekelompok kecil orang yang berpuasa, orang beriman yang berdoa yang berkumpul di lumbung, mempelajari nubuatan dengan diterangi oleh lilin menjadi orang-orang besar dan kuat yang sekarang memancarkan cahaya kebenaran untuk semua tetapi beberapa kelompok orang yang dikenal.

Umat yang memelihara hukum Allah, yang terdiri dari semua etnis utama dunia yang berbeda, menjalankan berbagai perguruan tinggi, universitas, seminari, rumah sakit, klinik, rumah penerbitan, pabrik makanan, dan ribuan gereja di seluruh dunia. Seperti perumpamaan biji sesawi, memang benar, sejak dari awal, berkembang dengan pesat dalam cara ini dan dalam cara yang lain— dan bait suci itu masih bertumbuh.

Tetapi bukan pertumbuhan material dan pertumbuhan statistik gereja universal yang harus menempati pikiran kita. Melainkan kesejahteraan bait suci individu yang masing-masing kita nyatakan. Bukan kesaksian dari tubuh yang terorganisasi dari orang percaya yang paling memengaruhi dan memajukan kerajaan, melainkan kesaksian hidup pribadi kita. Kita tidak bisa sendirian memperbarui masyarakat atau gereja, tetapi kita dapat setiap hari oleh kebiasaan dari pengabdian dan dedikasi kita melanjutkan kemajuan pribadi kita, bertumbuh setiap hari sebagai bait suci Allah. Hal ini mencerminkan hikmat penyair yang dengan bijak berpendapat: “Mengapa membangun [bait suci] yang mulia ini jika manusianya tidak terbangun? Sia-sia kita membangun [bait suci ini] kecuali pembangunnya juga bertumbuh.”

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan