kurangnya kerohanian di gereja, tentang fakta bahwa kita, seperti rekan-rekan kita pada zaman dulu yang telah menyimpang terlalu jauh di padang gurun. Memang benar seharusnya Israel modern dari dulu telah mencapai warisan tersebut. Kita juga sering frustrasi dalam perjalanan kita. Sangat tepat bila kita digambarkan sebagai Laodikia pada Wahyu 3. Tetapi mereka yang terobsesi dengan ciri-ciri Laodikia kita tidak pernah bisa mengatasi kenegatifan dan kesuraman yang dihasilkan oleh fokus yang berlebihan pada kelemahan gereja.

Kita juga menderita kerugian karena ketidakpercayaan; kita juga memerlukan kebangkitan, pertobatan dan pembaruan yang membara, merupakan kebutuhan kita yang terbesar dan paling mendesak. Namun, kita perlu menaruh ke hati kita kenyataan bahwa bahkan meskipun dengan segala pergumulan kita, kita tetap “biji mata [Nya]” (Mzm. 17:8); dan bahwa “gereja, yang lemah dan cacat, yang perlu ditegur, diperingatkan dan dinasihati, merupakan satu-satunya objek di bumi di mana Kristus menganugerahkan perkara-perkara-Nya yang tertinggi” (Testimonies to Ministers, hlm. 49). Pemikiran ini menghasilkan optimisme dan jaminan yang memerangi keputusasaan mereka yang tertekan oleh penyakit Sion dan menanamkan kepercayaan yang penuh harapan kepada kesetiaan yang lebih mendalam.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan