Mezbah Abraham

"Sesudah Itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin-di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN" (Kejadian 13:18).

Anak tertua Nuh, Sem, yang lahir 98 tahun sebelum air bah, hidup 502 tahun setelahnya, 350 tahun di antaranya, ayahnya, Nuh, masih hidup. Jadi selama empat setengah abad Nuh, yang hidup selama 600 tahun terakhir masa hidup Metusalah, bersekutu dengan Sem sehubungan dengan pengharapan Penebusan.

Abraham, mungkin yang paling terkenal dari garis panjang para bapa, lahir di Ur-Kasdim ketika Sem berusia 450 tahun. Ketika kekuatan Sem yang sudah lanjut usia menurun, Abraham yang masih muda keluar dari Ur pada usia 25 tahun, unggul dalam kepribadian dan pemeliharaan kepada “bapa yang setia.” Tidak ada bukti bahwa mereka saling kenal, tetapi fakta bahwa mereka hidup sezaman menyoroti maksud Allah untuk menjaga agar janji yang berabad-abad lamanya mengenai datangnya Penebus tidak terputus.

Mengenai Abraham yang setia, dikatakan bahwa perjalanannya cukup mudah dilacak karena di mana pun ia mendirikan kemahnya ia membangun dan meninggalkan mezbah. Kebiasaannya mempersembahkan korban adalah tanda perbuatannya, tanda pengenal yang jelas sebagai bukti pengabdiannya kepada Allah dan harapannya kepada Mesias yang dijanjikan. Dengan ritual dan perkataan, ia meneruskan kabar baik itu kepada anaknya Ishak, yang pada gilirannya menyampaikannya kepada Yakub, yang melalui pangkal pahanya muncul 12 suku—salah satunya, Yehuda, yang merupakan garis keturunan Yesus, Mesias yang dijanjikan.

Yang paling memalukan bagi kita adalah bahwa kita tidak membangun mezbah kesaksian, sebagaimana seharusnya. Dosa terbesar kita bukanlah tindakan kejahatan yang nyata, tetapi lalai melakukan tindakan yang baik. Kita melewati terlalu banyak malam tanpa mezbah, terlalu banyak hari tanpa arah yang jelas, terlalu banyak waktu berlalu dengan sia-sia dalam kegiatan yang mementingkan diri. Sebuah garis panjang kepahlawanan yang bersaksi untuk kebenaran telah meneruskan kesaksian keselamatan kepada kita. Akankah kita, dengan iman seperti mereka, menjaga nyala api tetap berkobar di rumah kita, di sekolah kita, di gereja-gereja kita, dalam lingkungan kita, dan di dalam hati kita?

Waktu sudah larut; tantangan besar; kita tidak bisa—dan tidak boleh—gagal.
 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan