Keharusan bagi Dia

"Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya la menjadi imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa” (Ibrani 2:17).

Pada bagian atas daftar kualitas mengagumkan yang dimiliki Yesus, saksi kita benar, adalah roh pengorbanan-Nya. Hal itu “mengharuskan” Dia datang ke dunia kita dan menderita. Artinya, kedatangan-Nya itu secara moral diharuskan. Tidak ada tekanan hukum, fisik, atau politik yang membuat Dia datang dan kemudian mati. Ia melakukannya karena hati-Nya yang penuh kasih tidak mengizinkan Dia bahagia dalam kemuliaan sementara kita menderita di bumi Panggilan kepada pelayanan terdengar dalam banyak cara: Melalui garis keturunan, seperti halnya dengan keimamatan Lewi; melalui intervensi dramatis, seperti Musa dan Paulus; melalui pengaruh teladan dari orang lain, seperti Elisa dalam hubungan dengan Elia; atau hanya melalui panggilan suara, seperti yang didengar oleh Abraham.

Tetapi kemunculan Yesus sebagai saksi adalah yang paling berkesan dari semua. Dia tidak dituntut, dikagetkan, dibujuk, didesak, dibayar, dipaksa, atau secara garis keturunan bertekad untuk bersaksi. Dia datang ke dalam dunia kita karena Dia “harus”! Dia ingin datang—kebutuhan kita adalah motif-Nya, nasib kita membujuk-Nya, dan keselamatan kita cukup menjadi alasan-Nya.

Ada orang yang mengatakan bahwa tidak memiliki ayah duniawi mendiskualifikasi Dia sebagai saksi yang sejati; dan untuk menjadi saksi yang benar-benar sah Dia harus memiliki, seperti yang kita miliki, dua orang tua duniawi dan karena itu representasi-Nya disangkal oleh kelahiran-Nya yang unik.

Keberatan ini dibatalkan oleh sejumlah fakta. Di antaranya adalah: (1) Dia menebus kegagalan Adam dalam keadaan yang “seratus kali lebih sulit daripada yang Adam ketahui”; (2) Dia tidak pernah memanfaatkan sifat Keallah-Nya untuk menghindar, melarikan diri, atau mengatasi tekanan dan cobaan terhadap daging kemanusiaah-Nya; (3) sebagai Adam Kedua kita, kelahiran-Nya sebenarnya lebih mirip kepada dengan kita daripada dengan Adam yang pertama, yang tak memiliki orangtua duniawi; dan (4) Dia “dicobai dalam segala hal” seperti kita (yaitu, dalam tiga klasifikasi dosa—keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup) tanpa berbuat dosa (Ibr. 4:15).

Hal itu mengharuskan Dia untuk datang ke planet kita dan menderita supaya kita hidup. Tindakan pengorbanan yang sempurna inilah yang mengharuskan kita merespons dengan berserah sepenuhnya kepada-Nya.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan