Dusta yang Pertama

“Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu 'Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat”' (Kejadian 3:4, 5).

Ketika Adam dan Hawa ditempatkan di taman, mereka diajarkan dalam kebaikan, bukan kejahatan. Pengetahuan tentang kejahatan atau pengalaman mengenai dosa dan akibat-akibatnya sengaja dirahasiakan dari mereka. Jika saja mereka setia, Tuhan akan, seiring berjalannya waktu, membuka pemahaman mereka mengenai ngerinya pelanggaran, namun tindakan mereka membawa pengetahuan itu dan konsekuensinya segera menimpa mereka.

Bukan buah pohon itu yang meracuni mereka; tidak ada ciptaan Tuhan yang beracun. Melainkan penerimaan Hawa terhadap kebohongan Setan, “Sekali-kali kamu tidak akan mati,” dan kurangnya kepercayaan Adam terhadap kemampuan Tuhan untuk mengatasi situasi tanpa Hawa yang menghantam sistem mereka dengan kematian.

Seperti biasa, pernyataan Setan tidak sepenuhnya salah. Kata-katanya “pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka” adalah benar. Tetapi pernyataan sebelumnya, “Sekali-kali kamu tidak akan mati,” tidak benar.

Bukti kebohongannya segera berlangsung—pohon mereka yang sarat dengan buah mulai layu, bunga mereka menumbuhkan duri, burung-burung dari firdaus kehilangan bulu mereka, hewan-hewan tidak lagi patuh, dan atmosfer kehilangan ketenangannya yang menyenangkan. Pasangan yang dulunya tidak bersalah, cahaya yang meliputi mereka lenyap dan kemanusiaan mereka yang suci sirna, mendapati diri mereka dijauhkan dari semua hak istimewa yang paling menguatkan di Eden—persekutuan bertatap muka dengan Pencipta mereka.

Mereka tidak lagi bisa berbincang-bincang dengan Allah di waktu fajar, berjalan-jalan dengan Dia di hari yang sejuk, atau dengan santai bertanya kepada-Nya mengenai karya-Nya ketika mereka berbincang di bawah langit berbintang pada malam hari. Mereka sekarang bersalah, telanjang, dan merasa malu. Roh mereka kaku karena terkejut akibat perpisahan dan realitas akibat dosa yang mengerikan. Kesalahan mereka tidak hanya mengakhiri hubungan muka dengan muka kita dengan sumber kehidupan, tetapi juga menghasilkan hasil kejahatan—kutukan kematian, dengan kesedihan dan rasa sakitnya.

Konsekuensi dosa yang menyakitkan bukanlah motivasi utama kita untuk menurut; motivasinya adalah kasih Kristus. Bagaimanapun, hal itu adalah sebuah pengingat yang efektif untuk hikmat penurutan dan harga keselamatan yang dibawa oleh Yesus, saksi kita yang benar dan lebih baik.

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan