Graciela selalu memiliki tempat di dalam hatinya untuk Yesus. Sebagai seorang anak remaja, ia menghadiri gereja Pentakosta yang menjadi satu dengan rumah yang ia tempati. Sementara ia senang belajar tentang Yesus dan kasih-Nya kepada Graciela, beberapa bagian ibadah Pentakosta yang hingar-bingar membuatnya merasa tidak nyaman.

Tahun demi tahun berlalu. Graciela bertumbuh dewasa dan menikahi anak laki-laki dari pemilik rumah di mana ia tinggal. Mereka mempunyai 2 anak. Seiring berjalannya waktu, Graciela sudah menjadi seorang nenek. Suatu kali, ia sedang berada di rumah menonton program televisi Pentakosta. Sang pendeta mulai berbicara tentang seseorang bernama Ellen White,

dan berkata bahwa wanita itu telah menulis banyak buku-buku yang menipu dan bahwa ia adalah seorang yang sangat jahat. Sementara ia mendengarkan kata-kata kasar dari pendeta itu, Graciela memutuskan bahwa ia ingin membaca sebuah buku yang ditulis oleh Ellen White agar ia dapat mengetahuinya sendiri.

Mencari Ellen White

Graciela pergi ke toko buku dan perpustakaan daerah, tetapi tidak seorang pun yang terlihat mengetahui seorang pengarang bernama Ellen White. Graciela terus berdoa agar ia dapat menemukan sebuah buku yang ditulis oleh penulis yang susah ditemukan ini.

Kemudian suatu hari, anak laki-laki dan cucu perempuannya datang dengan sebuah buku di tangannya. Mereka baru saja pulang dari toko sepatu, dan ketika mereka berada di sana ia memerhatikan sebuah buku yang sedang dibagi-bagikan. Anak laki-laki Graciela ini bukan seorang Kristen, ia mengambil buku itu dan berpikir bahwa
mungkin itu adalah sesuatu yang ibunya akan sukai.

Ia memberikan buku itu kepada Graciela yang berjudul La Gran Esperanza sebuah buku versi singkat yang berisi 11 bab dari buku Kemenangan Akhir oleh Ellen G White dalam Bahasa Spanyol.

Hadiah dari Tuhan

Tangan Graciela gemetar ketika ia membaca nama pengarang buku itu, ia menyadari bahwa buku itu merupakan hadiah dari Tuhan.

"Saya sudah mencari-cari sebuah buku yang ditulis oleh Ellen White, tetapi saya tidak dapat menemukannya," ia berkata. "Tetapi Tuhan membawanya kepada saya dari sebuah toko sepatu! Kedengarannya sedikit gila, tetapi itu merupakan salah satu cara misterius yang Allah lakukan bagi saya."

Graciela mulai membaca buku itu segera setelah itu dan menemukan bahwa buku itu merujuk langsung kepada Alkitab, la ingin untuk belajar lebih dalam lagi.

Gantinya menonton program televisi Pentakosta itu, Graciela mulai mendengarkan siaran radio, Nuevo Tiempo. Ketika penyiar radio menawarkan kelas belajar Alkitab, Graciela menghubungi stasiun radio itu dan meminta seseorang untuk datang ke rumahnya memberinya pelajaran Alkitab. Dia menikmati pelajaran Alkitab itu khususnya pelajaran mengenai nubuatan. Setelah ia menyelesaikan seri pelajaran Alkitab itu, ia dibaptiskan.

Graciela Bertemu Sonia

Ketika Graciela mulai menghadiri gereja Advent, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Sonia, dan keduanya berteman dekat. Sonia bergabung dengan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh bersama dengan keluarganya ketika ia berusia 12 tahun. Dengan berjalannya waktu, keluarganya meninggalkan gereja, tetapi Sonia memilih untuk tetap memegang imannya. "Saya selalu menyukai bacaan Alkitab,"ia berkata, "dan mengetahui bahwa Yesus sangat mengasihi saya sungguh berarti bagi saya."

Sonia senang melayani anak-anak di gereja, tetapi ketika ia pindah ke lingkungan yang baru, ia ingin melakukan sesuatu yang spesial bagi banyak anak-anak yang tinggal di sekitar rumahnya, la mulai merencanakan apa yang dapat ia lakukan, dan memutuskan untuk membuka cabang Sekolah Sabat di rumah mereka, tetapi pertama-tama ia mulai dengan program liburan sekolah Alkitab setiap petang selama "Pekan Suci" (pekan di antara Minggu Palem dan Minggu Paskah). Di negara-negara Amerika Selatan, pekan suci merupakan waktu di mana orang-orang terbuka untuk setiap pembicaraan rohani.

Pada pertemuan petang yang pertama, 8 anak datang ke rumah Sonia, dan setiap malamnya kelompok itu bertumbuh menjadi lebih besar. Sonia mengundang Graciela dan beberapa wanita yang lain dari
gereja untuk menolongnya melayani anak-anak ini. Setelah Pekan Suci selesai, kelompok pertemuan itu bertemu sekali setiap minggu dan terus bertumbuh. Enam bulan kemudian ada banyak sekali anak-anak yang datang ke rumah Sonia sehingga ia harus mencari tempat yang lain untuk berkumpul.

Sebuah Rumah Doa

Saat itu, Graciela dan suaminya mewarisi rumah yang mereka gunakan untuk beribadah ketika mereka masih muda. "Rumah ini selalu menjadi rumah doa,"Gracial berkata. "Ini selalu menjadi tempat untuk melayani Allah. Jadi ajaklah anak-anak itu untuk datang ke sini."

Cabang Sekolah Sabat ini sudah mengadakan pertemuan setiap minggunya lebih dari satu tahun. Mereka menyanyikan lagu-lagu pujian, mendengarkan cerita-cerita Alkitab, dan bermain permainan Alkitab. Banyak materi pelajaran yang mereka gunakan diberikan oleh Gereja Advent pusat di Ibukota Montevideo. Anak-anak senang

FaktaTerkini- Memiliki luas area sebesar 200 mil persegi, Montevideo merupakan kota terbesar dan pusat pelabuhan di Uruguay. Hampir setengah penduduk negara itu tinggal di sana.
- Montevideo terletak di bagian paling selatan Amerika, dan merupakan kota ketiga yang berada paling selatan di dunia (hanya Canberra (Australia) dan Wellington (NewZealand) yang berada lebih jauh ke selatan). - Sepak bola merupakan olahraga paling terkenal di Uruguay. Pertandingan internasional pertama di luar Kepulauan Inggris dimainkan oleh Uruguay dan Argentina di Montevideo pada bulan Juli 1902.


datang ke rumah itu, dan sekarang banyak yang telah menghadiri cabang gereja Advent itu. "Kami berencana untuk terus mengadakan pertemuan cabang Sekolah Sabat ini selama Tuhan berkenan kami untuk melakukannya," Sonia berkata.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan