BERSEDIA UNTUK KEDATANGAN YESUS

“Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia” (2 Petrus 3:10-14).

Saya harus menjadi pribadi yang bagaimanakah menghadapi peristiwa-peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di bumi? Yesus memberitahu kita jawaban pertanyaan itu, ketika Dia melayani di bumi selama tiga tahun. Kita menemukannya di dalam Khotbah di Atas Bukit dalam seruan-Nya agar para pengikut-Nya menjadi rendah hati, lemah lembut, murah hati, berhati murni, pendamai, dan menjadi orang yang lapar dan haus akan kebenaran lebih daripada apa pun di dalam kehidupan mereka (Mat. 5:3-9).

Bagian lain jawaban-Nya muncul dalam respons-Nya kepada orang muda kaya tentang perintah terbesar dari semuanya. Kita perlu mendengar perkataan Yesus sepenuhnya dan menerapkannya bagi kehidupan kita: “Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Aliahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi’” (Mat. 22:37-40), termasuk Sepuluh Perintah, yang adalah perpanjangan dua perintah besar itu (Rm. 13:8-10; Gal. 5:14).

Tetapi masih ada aspek lain bagaimana menyiapkan diri, terdapat dalam perumpamaan domba dan kambing, di mana kita temukan bahwa pengadilan terakhir berpusat pada tindakan belas kasihan kita dan keadilan kepada mereka yang paling membutuhkan bantuan dalam hidup ini. Kepedulian, memberi hidup bagi hamba adalah kehidupan yang dicontohkan Yesus dalam keberadaan-Nya di bumi. Dan karakteristik itu yang Dia cari dalam diri mereka yang dia bawa ke surga bersama Dia.

Kita, tentu saja, diselamatkan oleh kasih karunia-Nya. Tetapi kasih karunia yang sama mengubah para pengikut-Nya, dan selangkah demi selangkah membentuk mereka sehingga menjadi serupa dengan-Nya. Kita akan menjadi orang-orang seperti apakah “pada hari itu”? Jawaban, kita harus menjadi seperti Dia.

Bapa di surga, saya menantikan kedatangan Yesus. Bantulah saya agar membiarkan Engkau mengubah saya sehingga siap berdiri pada “hari itu.”

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan