KISAH DUA SAUL (BAGIAN 2)

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia—Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. 'Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Krisstus turun menangungi aku’”(2 Korintus 12:9).

    Ada pasal yang tak jelas dalam buku kedua kehidupan Saulus yang jarang diulas, namun yang mengutarakan rahasia terbesar dari semua keren dahan hati. Paulus yang baru bertobat menghilang heberapa tahun. Setelah menyusun kembali catatan Perjanjian Baru, kita menyimpulkan kalau dia akhirnya kembali ke tanah kelahirannya di Tarsus. Selagi berada di sana Paulus diberikan beberapa penglihatan luar biasa oleh Allah. Kepercayaan Ilahi itu menimbulkan prinsip-prinsip kerendahan hati. "Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya——Orang itu tiba—tiba diangkat ke tingkat yang ke- tiga dari sorga" (2 Kor : 12:2). Paulus menggunakan alat sastra yang sama sebagaimana yang dilakukan Yohanes dengan sengaja, rendah hati, menyelubungi (diri dalam bentuk orang ketiga. Tetapi dari gambarannya jelas bahwa melalui penglihatan-penglihatan Paulus diberikan akses pribadi ke Surga di mana ia telah mendengar dan melihat "hal—hal yang tak (dapat diekspresikan." Karena keistimewaan yang satu itu, Allah menempatkan di tangan‘sahabat-sahabat—Nya, satu wadah untuk diminum; "Dan supaya aku jangan meninggikan diri _Karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seerang utusan Iblis, untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri” (ayat 7). Kata Yunani untuk "duri" bukan yang digunakan untuk mahkota duri Kristus, tetapi lebih menggambarkans pada serpihan kayu yang (tertusuk dalam daging atau di bawah kuku Anda. Karena Paulus menggambarkan itu sebagai "di dalam daging," para sarjana telah mengumpulkan sekumpulan petunjuk di seluruh surat kecil Paulus untuk memperlihatkan bahwa pandangan mata Pauluslah yang terganggu. Apakah itu akibat fisik dari pertemuan di jalan menuju Damaskus denganYesus? Kita tidak tahu, Tetapi jelas itu merupakan pengingat konstan atas keterbatasannya; dan kekurangan fisiknya, membuatnya bergantung pada orang lain pada fungsi pelayanannya dan menyebabkan dia tidak nyaman; malu, dan rasa sakit yang menggelisahkan. Tidak heran Paulus menggambarkan sumbernya sebagai seorang malaikat Iblis ("utusan Setan") untuk "menyiksaku" (Bahasa Yunani: "menyerang dengan pukulan"). Mengapa sakit begitu? "Supaya aku jangan meninggikan diri” misalnya, untuk membuat aku rendah hati. Itu mernbuat Anda bertanya-tanya. Mungkinkah penderitaan itu Kadang—kadang diizinkan Ilahi sebagai penangkal bagi kesombongan kita? Dan hisakah kita seperti Paulus?

SEKOLAH SABAT"Perencanaan ke Depan"

   Bacalah Yakobus 4:13 (bandingkan dengan Luk. 12:13-21). Bagaimanakah kita menyeimbangkan perencanaan bijaksana untuk masa depan dengan kebutuhan kita untuk hidup setiap hari bagi pengharapan pada kedatangan Kristus yang segera? Bagaimanakah kita bisa menghindari jebakan dengan sekadar membangun "lumbung " yang lebih besar? Tampaknya masuk akal untuk berencana setahun sebelumnya atau bahkan lebih. Pada umumnya kesibukan memiliki jangka waktu perencanaan yang pendek, sedang, dan panjang. Masing-masing individu dan keluarga perlu menabung untuk masa depan serta membuat persediaan untuk pengeluaran yang tidak terduga.  Di sisi yang lain, kita juga percaya bahwa Yesus akan segera datang dan suatu saat nanti semua harta kita akan hangus terbakar (lihat 2 Ptr:3:10-12).
 Dua pendekatan hidup ini tidak perlu bertentangan. Seseorang berkata, “Berencanalah seakan—akan Yesus masih lama akan datang, tetapi hiduplah setiap hari seakan—akan Yesus akan datang besok." lni adalah baik sejauh itu berjalan sebagaimana mestinya, tetapi perencanaan jangka panjang dapat menyebabkan kita merasa tidak perlu merasa khawatir akan masa depan.  Banyak pendengar Yesus (  dan orang Kristen sekarang) akan melihat bahwa orang kaya yang memutuskan untuk membangun lumbung yang besar adalah orang yang sejahtera karena Allah memberkati dia.      Tetapi Yesus menyatakan kepada kita apa yang dipikirkan manusia: "Jiwaku, ada padamu banyak
barang, tertimbun untuk bertahun—tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah minumlah dan bersenang—senanglah!" (Luk. 12:19). Singkatnya, perhatiannya hanyalah menyimpan harta bagi dirinya sendiri. Yang terpenting, daripada membuat rencana kita terlalu pasti, “Gantinya Anda harus berkata, ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu"’ (Yak. 4:15). Ini berarti lebih daripada sekadar menambahkan "d.v" (Deo Volente, laahasa Latin yang berarti "Allah rela") pada akhir-kalimat tentang rencana masa depan kita. ltu artinya kita harus menyerahkan semua rcncana kita kepada Allah. Kita dapat berdoa: "Allah, aku mau mengenal kehendak-Mu. Jika Engkau lidak berkenan kepada rencana ini, tolong tunjukkan kepada saya." Kemudiian, jika rencana kita tidak haik, Allah akan menunjukkan kepada kita—selama kita penuh perhatian dan rela memperbaiki rencana kita atau bahkan mengubahnya secara kcscluruhan. Bacalah kembali Yakabus 4:13. Mcskipun di pcrniukaan kclihatan tidak ada yang `salah dcngan apa yang tclah dikatakan, sudah jclas ada masalah—bukan kcpada apa yang orang ingin lakukan tctapi dalam pcrilaku mereka tentang itu. Bagaimanakah kita menjadi lebih ’ berhati-hati untuk tidak tcrlibat dalam perilaku yang samu, bahkan melakukannya secara sadar?

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan