KISAH UMAT PILIHAN (BAGIAN1)

"Semuanya inI telah menimpa mereka sabagai contoh dan dituliskan untuk menjad peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba" (1 Korintus 10:11).
        Dulu kala ada satu generasi umat pilihan sedang barjalan menuju Tanah Parjanjian. Dan separti yang diamati alah ayat hari ini, kisah meraka dicatat untuk menjadi pelajaran bagi generasi yang lain, yang juga umat pilihan dan juga sedang menuju Tanah Perjanjian.Saat itu pagi penuh kemenangan, di padang pasir tanpa awan bagi gelombang massa hitam bergemuruh yang melintas dengan halilintar di atas puncak gunung padang pasir ini. Sudah Serhari-hari pemimpin meraka pergi. Siapakah yang tahu nasib yang dialaminya di puncak? Dan di manakah Allah yang telah meninggalkan meraka di tangah padang belantara ini? Akhirnya suatu perwakilan yang amat banyak dari para budak yang sudahmerdaka dan tidak puas rnendatangi pemimpin kedua dan menuntut agar dia, sebagai wakil pemimpin, membuat satu dewa baru bagi meraka. Dan karena dia bukanlah orang yang tahan melawan orang banyak, maka ia menurut. "Berikan anting·anting kalian, perhiasan yang diberikan oleh bangsa Mesir ketika keluar dan aku akan membuat berhala baru bagi kalian."Dan tentu saja, berjarn-jam kemudian sebuah patnng anak sapi dari emas sudah berdiri di tengah perkemahan. “Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!" (Kel. 32:4). Waktunya pesta bagi umat pilihan! Dan meraka pun berpesta mulai dari matahari terbit sampai matahari terbanam, pesta yang sudah manyimpang tarlalu jauh sehingga cerita itu menggunakan kata Ibrani yang sama dalam Kejadian yang menggambarkan hubungan seksual. Setelah rnangadakan penyembahan berhala yang merendahkan moral dari Mesir yang telah mereka tinggalkan, umat pilihan tenggalam dalam pesta para yang memabukkan bagitu nyaring dan keras sehingga Musa besarta tangan kanannya, Yosua, bisa mendengarnya dari kejauhan lereng Sinai. Itu bukanlah suatu pemandangan indah ketika mereka berdua, yang menyendiri di hadapan hadirat Allah yang hidupselama 40 hari siang dan malam, kembali turun ke parkarnahan. Seketika itu juga keheningan yang menyakitkan meliputi orang banyak itu, Dengan tangisan keputusasaan Musa melemparkan loh batu segar dengan tulisan tangan Ilahi di atasnya,menghancurknnya di hadapan orang banyak yang gemetar ktakutan. Betapa cepatnya hati kita yang telah ditebus bisa kembali kepada perbudakan! Suatu hari kita sepenuhnya milik Dia. Tidak heran bahwa bagi kita di perbatasan Tanah Perjanjian, “keseluruhan" bagi Allah bukanlah hasil dari fanatisme, tetapi lebih kepada buah dari parjalanan kita angan Yesus, yang telah “membenarkan dan manguduskan dan menabus kita" (1 Kor. 1:30),

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan