Peran Iman

"Dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”(Filipi 3:9).

Iman adalah suatu sarana yang kita terima dan penopang yang melayakkan kita dalam kebenaran Kristus. Apakah iman itu? Iman adalah percaya bahwa Tuhan itu nyata; bahwa Dia bukan hanya mahakuasa, tetapi juga sangat setia, walaupun kita tidak dapat melihat-Nya, kita dapat percaya pada-Nya.

Tindakan kita—perbuatan baik kita adalah bukti nyata perubahan yang terjadi ketika kita memiliki iman. Perbuatan baik kita tidak dapat menyelamatkan kita; itu tetap diperhitungkan, meskipun, sebagai bukti bahwa kita telah diselamatkan. Hal itu merupakan bagian lainnya dari hubungan iman kita dengan Kristus. Hal yang paling utama dari hubungan ini adalah penerimaan Bapa oleh karena jasa Kristus. Kita tidak melihat perubahan secara fisik, tetapi kita menerimanya oleh iman, percaya teguh bahwa jasa Kristus sudah sangat baik dan bahwa kasih Bapa sangat luas untuk menyelamatkan kita.

Kurangnya iman telah menjadi tanda kita sebagai masyarakat modern yang dinyatakan dalam pertanyaan Kristus: “Ketika Anak Manusia datang, akankah Dia menemukan iman di bumi?” (Lukas 18:8). Jawabannya adalah, tentu saja, ya, tetapi sangat sedikit. Zaman kita adalah zaman yang anti terhadap iman; suatu zaman yang dikuasai oleh tuntutan untuk suatu bukti dan demonstrasi, suatu zaman yaitu manusia bertambah jahat dan zaman yang masyarakatnya kurang iman, suatu zaman yang sangat tergantung pada teknologi komputer dan tidak bergantung pada kuasa yang tidak dapat dilihat oleh dunia; kita berada pada zaman yang tidak menginginkan iman.

Jadi bagaimanakah kita di zaman “kekurangan iman” ini menerima dan dipulihkan kembali? Terutama yaitu belajar Firman Tuhan (Roma 10:17). Hanya Alkitab berisi kuasa yang memulihkan iman yang kuat dan bertumbuhlah, yang memampukan kita melakukan dengan benar akan kebenaran-Nya.

Di tengah banyak suara yang menyerang setiap indera kita—suara dari kepelesiran, kesenangan, dan masalah nasional, keluarga, dan masalah pribadi— kita harus tetap peka terhadap suara Tuhan. Suatu suara yang jelas kepada dunia kita yang sengsara ini, memberikan suatu jaminan terhadap hati yang kesal. firman-Nya, adalah kebutuhan kita untuk menangkal ejekan yang melemahkan iman. Karena “tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” (Ibrani 11:6) dan “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17), baik peran dan jalan menuju iman adalah kebutuhan mendesak kita.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan