Sebuah Hadiah yang Dibumbui

"Karena setiap orang akan digarami dengan api. Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain" (Markus 9:49,50).

Garam adalah salah satu representasi Alkitab dari kebenaran Kristus. Dalam mengajarkan umat-Nya mengenai pengorbanan daging hewan, Allah memerintahkan, "Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kau lalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam!" (Im. 2:13).


Ellen White sangat jelas mengenai arti ini, “Dalam upacara Bait Suci, garam ditambahkan pada setiap korban. Sebagaimana halnya dengan persembahan dupa, ini berarti bahwa hanyalah kebenaran Kristus dapat menjadikan pelayanan itu berkenan kepada Allah” (Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 51).

Kita pada dasarnya adalah cacat. Pengorbanan dan perbuatan baik kita tidak pernah cukup dan, kecuali digarami dengan kebenaran Kristus, pekerjaan kita akan tetap tidak enak, tidak bisa dipertahankan, dan tidak dapat diterima, tidak peduli berapa keras atau lama pujian dan perbuatan baik kita. Kehidupan-Nya sendiri menjadi “nilai tambah” untuk mengubah persembahan kita yang kurang kepada pelayanan yang sepenuhnya dapat diterima. Kesempurnaan-Nya membungkus perbuatan kita yang cacat sehingga kita terlihat berbeda. Keberhasilan-Nya menjadi tebusan karena kegagalan kita. Jasa-Nya dipakaikan pada keadaan kita yang berkekurangan, membayar semua hutang kita. Persediaan kesucian dan kebahagiaan-Nya lebih besar dari kekurangan dan kebutuhan kita. Pemberian-Nya adalah sesuatu yang lebih baik daripada yang bisa kita mimpikan atau bayangkan. Itu mengubah daging "yang mati dalam dosa" kepada makhluk hidup bahagia bagi kemuliaan Bapa. Jamahan-Nya membuat mata yang buta terbuka, pikiran pekat menjadi jelas, hati yang kosong menjadi penuh, tulang kering menjadi hidup, dan pengorbanan yang hambar dapat diterima.

Harus diingat bahwa garam kebenaran Kristus diberikan tidak hanya diprioritaskan untuk kekudusan pribadi kita; itu diberikan agar kita dapat memberi aroma kepada mereka yang ada di sekitar kita. Kita harus menjadi garam dunia, agen-agen yang menyatakan Allah di rumah, di pekerjaan, di sekolah, atau di mana pun kita pergi. Alkitab mengingatkan bahwa efektivitas kita dalam menjangkau orang lain dan memperluas kerajaan Kristus di bumi, tergantung bukan pada bakat dan kreativitas kita, tetapi pada kehadiran Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Dengan kuasa-Nya kita tidak hanya menjadi pencari kekudusan, tetapi juga penuh kuasa, dan dengan demikian, kita adalah agen perubahan dalam dunia yang sekarat dan yang sedang menuju kebinasaan.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan