SESUNGGUHNYA AWAL YESUS

"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah"(Yohanes 1:1).

Sesungguhnya, inilah awal Yesus. Kalau Matius dan Lukas memulai Injil mereka dengan kelahiran ajaib Yesus dan Markus dimulai dengan pelayanan-Nya, maka Yohanes membawa para pembacanya kembali ke awal dari semua permulaan.

Dan apakah itu? Pikiran pertama adalah pergi ke Kejadian 1:1, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." Tetapi bukan di sini Yohanes 1:1 mulai. Bagaimanapun, menurut ayat 3 Yesus sudah ada sebelum penciptaan dalam Kejadian. Dalam penciptaan Dia adalah perantara yang aktif (bandingkan Kol. 1:16; Ibr. 1:2).

Maka hasilnya, dengan satu goresan penanya, Yohanes menarik pikiran kita bukan kembali kepada kisah Penciptaan dalam Kejadian 1, tetapi kepada kekekalan yang begitu luas sebelum Penciptaan dan tempat Kristus, yang adalah Firman, di dalam ruang waktu yang sangat luas dan tiada batasnya. Ellen White menangkap kedalaman kekekalan itu ketika dia menulis bahwa Kristus “setara dengan Allah, tanpa batas dan mahakuasa.... Dialah Anak yang kekal, yang berdiri sendiri" (Evangelism, hlm. 615). Ketika Yohanes berkata, “Pada mulanya,” ia maksudkan adalah permulaan yang sesungguhnya sebelum sesuatu pun diciptakan.

Rasul ini kemudian meneruskan dengan membuat dua pernyataan lain mengenai Firman. Yang pertama, bahwa Dia “bersama-sama dengan Allah.” Injil keempat ini membantu kita mengerti “kebersamaan” itu. Yang digambarkan adalah Yesus berada di sisi Bapa (Yoh. 1:18), bahwa Bapa menempatkan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya (Yoh. 3:35), Dia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30), dan seterusnya sepanjang kisah Injil. Dengan demikian, maka pernyataan kedua oleh Yohanes mengenai Firman, apabila dikombinasikan dengan yang pertama, menghadirkan Kristus sebagai Firman yang sejak kekekalan telah menikmati keintiman yang mendalam bersama Bapa.

Pernyataan terakhir mengenai Firman menyamakan Dia dengan Allah. Di sini penting sekali untuk mencatat Yohanes tidak mengatakan bahwa Yesus adalah Bapa. Bagaimanapun, Injilnya mengemukakan keduanya sebagai individu yang berbeda yang mampu berbicara kepada dan mengenai satu sama lain. Dengan demikian, Bapa dan Anak diidentifikasikan di dalam Alkitab sebagai “Allah” (bandingkan Ibr. 1:8). Kita dapat mengatakan bahwa Mereka berbagi nama keluarga yang sama (Allah) tetapi dengan fungsi yang berbeda.

Bapa, ketika kami sujud di hadapan-Mu dalam doa, pikiran kami sangat dipengaruhi kenyataan bahwa Bayi yang lahir sebagai Yesus orang Nazarel tidak lain adalah Allah yang kekal. Terima kasih Bapa untuk Pemberian terbesar dari semua pemberian. Sementara kami meneruskan pelajaran kami, tolonglah kami agar mulai memahami arti pemberian itu bagi dunia dan kehidupan kami

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan