Berhadapan dengan Ketidaktaatan

"Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang, lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31).

Tiga bidang fungsional ketaatan ketika orang Kristen menjalankannya yaitu: (1) Ketentuan gereja, (2) Ketetapan pemerintah (3) Standar pribadi. Ketidaktaatan pada doktrin gereja membuat orang rentan terhadap disiplin gereja. Ketidaktaatan terhadap hukum negara akan mendapat hukuman sipil. Dan, secara pikiran sehat, ketidaktaatan terhadap standar etika pribadi (hukum hati nurani) menghasilkan di dalam pribadi ketidaknyamanan dan penghukuman.

Namun dalam bagian ketiga ini, sering disebut sebagai “sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan,” itu merupakan sebagian besar dari keputusan yang kita buat setiap hari. Pilihan kita yang paling umum bukanlah melanggar hari sabat, atau membayar pajak, tetapi sesuai dengan apa yang kita baca, yaitu menghabiskan uang kita, dan bagaimana memanfaatkan waktu kita.

Karena pilihan tidak selamanya menjadi dasar keputusan gereja atau negara banyak yang memandang pilihan sebagai hal yang tidak penting atau “bukan urusan seseorang” tetapi hak kita. Meskipun mengetahui bahwa “tidak ada seorang pun yang hidup sendiri,” etika yang benar adalah peka terhadap tindakan kepada orang lain. Bahkan ketika tidak ada sanksi pribadi berlaku, mereka bertindak dengan menghargai orang lain. Jiwa-jiwa yang berani melatih kebebasan mereka tanpa memandang kerugian lainnya, mereka lebih berusaha memperjuangkan kebebasan!

Ada banyak sumber yang dapat membantu untuk menuntun dalam membuat keputusan yang terdengar masuk akal: Sifat dasar, riwayat hidup, filsafat, sosiologi, dan sering pengajaran yang positif dari keluarga dan masyarakat itu sendiri, Sumber yang paling baik, bagaimanapun, adalah Firman Allah. Karena seluk-beluk pola hidup sekarang ini jauh berbeda dengan pada zaman Alkitab atau bahkan zaman para pelopor sejarah gereja kita, kita tidak selalu bisa meniru tindakan dari para pahlawan Alkitab. Sebaliknya kita harus belajar dari Firman Tuhan mengenai prinsip kekal pusat moral dan menerapkannya dalam menghadapi tantangan hidup setiap hari.

Pertobatan yang sejati adalah berusaha untuk menjadi selaras dengan aturan gereja dan pemerintah. Tetapi secara pasti, dan mungkin bahkan lebih penting seseorang akan mencari kehidupan kedamaian sejati yaitu tidak dijatuhkan oleh dorongan secara lahiriah. Ketulusan mereka dalam belajar Firman Allah menjadikan penurutan menjadi bukan hanya mungkin atau barangkali, tetapi sesuai dengan inspirasi kekal, yaitu tidak dapat dielakkan.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan