Tuhan atau Mamon

"Tetapi jika kamu anggap-tidak baik untuk beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"' (Yosua  24:25).

Yosua adalah seorang yang sudah tua saat itu. Ia tiba pada akhir kariernya dan hampir mati. Khotbah perpisahannya adalah khotbah yang penuh semangat untuk mengingatkan bangsa Israel bagaimana Allah membebaskan mereka dari Mesir dan perjalanan mereka 40 tahun di padang gurun menuju ke tanah Kanaan. Mengenang sejarah, bagaimanapun, bukanlah tujuan utama Yosua. Apa yang ia harapkan lebih dari apa pun yaitu untuk menguatkan umat Allah supaya memperbarui penyembahan mereka kepada Allah. Jadi dia menegaskan, “Pilihlah pada hari ini kepada siapa Anda akan beribadah, Allah Yahwe, yang telah menyatakan diri kepada Anda untuk bertahun-tahun lamanya, ataukah patung dewa dari bangsa yang pernah menawan Anda.”

Tantangan yang dihadapi Yosua adalah tantangan untuk setiap generasi. Dalam hal ini kita semua harus memilih. Tidak ada yang terkecuali. Setiap orang harus memutuskan, dan sebagaimana mereka, pilihankita sekarang dapat ditetapkan dengan baik. Apakah kita akan memilih Tuhan Pencipta ataukah kita akan memilih para dewa palsu dan kepuasan sementara. Tidak ada pilihan untuk tidak memilih—tidak ada daerah netral; apakah kita akan memilih Dia yang telah menciptakan kita dan telah menebus kita, ataukah kita menyelaraskan diri dengan salah satu dari banyak dewa yang diciptakan oleh Setan.

Permohonan Yosua untuk memilih “hari ini” tidakmemberi kesan “sekali dan untuk selamanya” menjadi tanda keselamatan. Kita harus memilih setiap hari. Setiap hari kita menghadapi tantangan yang berbeda. Dewa-dewa keegoisan, nafsu, dan kesombongan menemukan kembali diri mereka setiap hari dengan cara mengancam perjanjian kita dengan Allah yang benar. Tetapi dengan menempatkan kehendak kita pada kehendak Tuhan, dan oleh pembaruan hidup setiap hari melalui mempelajari Firman-Nya, kita akan menemukan bahwa ketertarikan dunia menjadi lemah dan respons kita kepada Allah akan lebih alamiah dan lebih bermanfaat.

Kebutuhan terbesar bagi kita sekarang ini adalah lebih banyak sikap Yosua di mimbar-mimbar kita, ruang kelas, kantor konferens, kampus asrama, rumah sakit, dapur keluarga, dan di bangku gereja, bersedia untuk menjadi juru bicara Allah untuk menyampaikan secara tegas seperti pada zaman para nabi dan bapa. Ketika hal itu terjadi, kebangunan dan reformasi akan mengikutinya, dan janji tentang hujan akhir akan terpenuhi dengan mulia.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan