Pendalaman 

      "Sekiranya Yusuf dan Maria telah memusatkan pikiran mereka pada Allah dengan renungan dan doa. niscaya mereka sudah menginsafi betapa sucinya tanggungjawab yang telah dipercayakan kepada mereka dan mereka tidak akan kehilangan Yesus. Karena kelengahan sehari mereka kehilangan Juruselamat; akan tetapi mereka harus mencari dengan perasaan cemas selama tiga hari untuk menemukan Dia. Demikian juga halnya dengan kita; dengan perkataan sia-sia, Fitnahan, atau kelalaian berdoa, mungkin kita pada satu hari kehilangan hadirat Juruselamat, lalu mungkin memerlukan berhari-hari lamanya untuk mendapat Dia dengan susah payah, serta memperoleh kembali damai yang lelah hilang dari kita."
-Ellen G. White. Alfa dan Omega,jld. 5, hlm. 75.Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:
1. Pencobaan itu sendiri bukanlah dosa. Dalam arti Alkitabiah, pencobaan memiliki potensi untuk menegaskan mungkinnya kekudusan. Dicobai dan jatuh ke dalam dosa adalah dua hal yang berbeda. Pada saat yang sama, apakah tanggung jawab kita untuk melakukan semampu kita untuk menghindari pencobaan sekalipun?
2. Para filsuf dan teolog sering berbicara mengenai apa yang mereka sebut "metanarasi" sebuah kisah atau tema umum utama di mana kisah-kisah lain terjadi. Dengan kata Iain, metanarasi adalah latar belakang, konteks, di mana kisah-kisah dan peristiwa lain terungkap. Sebagai orang Advent, kita melihat pertentangan besar sebagai "metanarasi" atau latar belakang dari apa yang sedang terjadi, bukan hanya di bumi, tetapi juga di surga. Ayat-ayat Alkitab manakah yang menunjukkan kepada kita realitas pertentangan besar dan bagaimana ayat-ayat tersebut membantu menjelaskan apa yang sedang terjadi di dunia?
3. Ayat-ayat Alkitab manakah yang sangat menolong yang menjanjikan kepada kita kemenangan atas pencobaan yang datang kepada kita? Mengapakah, walaupun, ada janji-janji ini. begitu mudah untuk jatuh?
4. Salah satu pelajaran pekan ini memberikan pernyataan berikut: "Meragukan Firman Tuhan adalah langkah pertama dalam menyerah kepada pencobaan." Mengapakah demikian?
5. Dengan cara apakah penyembahan berhala menjadi jauh lebih halus daripada tunduk dan menyembah sesuatu yang lain daripada Tuhan?

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan