ILAHI DAN MANUSIA

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Filipi 2:5-8).

Misteri dari semua misteri. Allah menjadi manusia. Allah menyerahkan kuasa yang menciptakan alam semesta, menjadi pribadi yang rendah pada sebuah planet sakit karena dosa dan tidak penting menurut ukuran bintang dan planet dalam bimasakti. Allah meninggalkan kemuliaan surga, datang ke kampung kecil dan kumuh bernama Nazaret. Di sini ada sesuatu yang pikiran manusia tidak bisa terima, apalagi mengerti. Dan Paulus bahkan tidak berupaya untuk menerangkannya. Ia sekadar menerangkan kenyataan yang menonjol dan kejam dari kasus itu.

William Barclay menuliskan, "Dilihat dari sudut mana pun, inilah peri-kop terbesar dan paling mengharukan yang pernah ditulis Paulus tentang Yesus." Dalam 2 Korintus 8:9, sang rasul menyatakan bahwa Yesus "yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya." Tetapi di dalam Filipi 2, dia mengembangkan gagasan tersebut dan mengisikan artinya.

Kita catat hal-hal mengenai perikop hari ini. Yang pertama, tidak ada yang dipaksakan kepada Kritus. Semua inisiatif-Nya: "Ia merendahkan diri-Nya," "Dia mengosongkan diri-Nya." Dia dengan sadar dan menurut ke-mauan sendiri memilih meninggalkan surgawi-Nya demi saya.

Hal kedua harus dipahami, ketika Paulus mengatakan Kristus adalah dalam "rupa" Allah, ia tidak bermaksud menyatakan secara tidak langsung bahwa Dia mirip seperti Allah. Kata yang digunakan rasul adalah morphe, berarti bukan sekadar penampilan lahiriah namun sifat esensial tak pernah berubah. Gagasan itu dikuatkan ayat 6, ketika merujuk Kristus memiliki “kesetaraan dengan Allah." "Rupa" juga muncul saat Paulus membahas kemanusiaan Kristus. Dia sesungguhnya menjadi manusia.

Pemikiran kunci dalam perikop ini adalah, Kristus "mengosongkan diri-Nya" agar menjadi manusia. Ini tidak berarti Dia menukar Keilahian-Nya dengan kemanusiaan, tetapi lebih tepat, Dia memperlihatkan sifat (atau rupa) Allah dalam sifat (atau rupa) seorang hamba.

Kristus Ilahi bukan saja menjadi manusia untuk kita. Dia taat sampai mati, ketaatan yang paling tinggi. Tetapi kematian-Nya bukan sekadar suatu kematian, tetapi kematian di atas kayu salib-kematian yang diperuntukkan bagi para penjahat dan orang-orang paling rendah di dalam masyarakat.

Bapa, bantulah saya dalam pemikiran saya yang lemah ini agar mulai menggenggam apa yang Kristus lakukan bagi saya. Dan bantulah saya agar mempunyai pemikiran berkorban seperti yang dimiliki-Nya.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan