PERUMPAMAAN 5:
HINDARI KEJUTAN-KEJUTAN

“Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketikaAku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau... dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:34-40).

Apakah Anda melihat tanda tanya? Kita menemukan lebih banyak lagi bilamana perumpamaan ini menuju akhirnya. Salah satu ajaran dasarnya adalah penghakiman penuh kejutan.

Alasan keberadaan tanda-tanda tanya itu karena pengertian keliru agama yang benar yang dianut kebanyakan orang. Secara perorangan rata-rata melihat inti agama adalah memercayai doktrin-doktrin yang benar atau mempraktikkan ajaran tertentu atau kewajiban gaya hidup. Tetapi bukan begitu maksud Allah. Di salah satu ayat penting Perjanjian Lama tentang tema ini, Allah berkata melalui Mikha apa yang Dia tuntut dari umat-Nya bukan perilaku lahiriah atau ketaatan ibadah, tetapi “berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu” (Mi. 6:8). Dalam 24 pasal pertama Matius, Yesus mengutip ayat itu tiga kali (Mat. 9:13; 12:7; 23:23), selalu dalam konteks pengertian keliru dari agama sejati. Sisanya Perjanjian Baru menggunakan tema yang sama. Sehingga Yakobus menuliskan, “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia” (Yak. 1:27). Dan Paulus menyatakan, “Barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat” (Rm. 13:8-10; juga Gal. 5:14).

Injil pertama juga membicarakan tema agama yang benar dan upahnya. Yesus menyatakan sangat sederhana, “Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya” (Mat. 10:42). Lagi-lagi, Yesus menjelaskan, seseorang dapat menyimpulkan kedua perintah besar itu sebagai kasih kepada Allah dan kepada sesama. Dia mendefinisikan kesempurnaan sebagai sikap penuh belas kasih terhadap musuh kita (Mat. 5:43-48; Luk. 6:36); dan Dia secara khusus memberitahu penguasa muda kaya raya dan mementingkan perilaku itu bahwa jika dia ingin sempurna, dia harus menjual semua hartanya dan memberikannya kepada orang-orang miskin dan kemudian upahnya harta di surga (Mat. 19:21). Sudah waktunya bagi mereka yang melihat doktrin dan gaya hidup atau bahkan doa dan membaca Alkitab menjadi inti agama benar. Hal-hal itu penting, tapi ada sesuatu yang lebih vital.

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan