SEBUAH BERKAT YANG DIABAIKAN

“Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya’” (Yohanes 13:12-17).

Salah satu aspek aneh sejarah gereja ialah bahwa sebagian besar organisasi keagamaan dan umat Kristen menekankan pada aspek Perjamuan Terakhir yang berkaitan dengan roti dan anggur, tetapi hampir mengabaikan pembasuhan kaki sama sekali. Tetapi Kristus memerintahkan keduanya.

Kemungkinan ada alasan-alasan baik untuk itu. Kematian Kristus dan darah-Nya yang dicurahkan adalah inti segala-galanya yang disebut Kekristenan. Akibatnya, pemecahan roti yang menggambarkan tubuh Kristus dan anggur yang menggambarkan darah-Nya yang dicurahkan, patut mendapat tempat penting dalam ajaran Kekristenan.

Tapi ada sesuatu yang lain yang penting dalam ajaran dan teladan yang diberikan oleh Yesus. Perlu para pengikut-Nya siap secara rohani turut merasakan lambang-lambang Perjamuan Kudus. Sebagaimana para murid pertama Yesus perlu merendahkan hati dan memeriksa hati mereka sebelum memakan yang disuguhkan pada Perjamuan Kudus, begitu juga murid-murid modem harus mempersiapkan hati dan pikiran mereka untuk pengalaman itu.

Tetapi, sebagian besar dari kita orang-orang modern tidak suka gagasan mencuci kaki orang lain sama seperti Petrus. Saya masih ingat pertama kali saya menghadiri sebuah gereja yang mempraktikkan pembasuhan kaki. Seluruh pikiran dan diri saya memberontak terhadap praktik itu. Tetapi saya temukan bahwa berbuat demikian sungguh-sungguh suatu berkat. Saya menyadari bahwa praktik itu bukan saja suatu kesempatan pelayanan kepada orang lain, tetapi juga suatu peluang untuk mengakui kesalahan-kesalahan saya dan kekurangan-kekurangan saya kepada Allah dan orang lain.

Kita semua sebagai manusia memiliki kebanggaan dan pernah menyinggung perasaan orang lain dalam keluarga kita dan dalam gereja. Pengalaman membasuh kaki adalah saat untuk merendahkan hati dan mengikuti teladan Tuhan kita. Itulah saat untuk pembaruan kerohanian, saat untuk menemui orang lain kepada siapa kita berbuat salah, saat berdamai dengan mereka dan Tuhan kita. Singkatnya, itulah saat pembaruan rohani. Dilambangkan sebuah baptisan mini. Paling penting, hal itu mempersiapkan kita untuk duduk di meja Tuhan dalam hati dan pikiran sebagai suatu komunitas pendosa yang sudah dipulihkan yang sudah mengotori kaki kita di dalam perjalanan hidup.

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan