PETRUS MENDAPAT PELAJARAN

“Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?’ Jawab Yesus kepadanya: ‘Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.’Kata Petrus kepada-Nya: ‘Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.’ Jawab Yesus: ‘Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.’ Kata Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!’ Kata Yesus kepadanya: ‘Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua’” (Yohanes 13:6-10).

Petrus merasa tidak nyaman karena tidak berhasil mendapatkan posisi di dua tempat paling bergengsi di meja itu. Dan sekarang dia merasa ngeri ketika dia memerhatikan Yesus melayani murid demi murid dengan mencuci kaki mereka. Tetapi saat genting menerpa Petrus, saat Yesus mendekati kakinya. Bingung dan tidak tahu apa yang harus ia katakan, tanpa berpikir lagi dia berujar bahwa dia tidak akan pernah mengizinkan Yesus mencuci kakinya. Tetapi, secara halus Yesus menyatakan, Dia tegaskan, apa yang sedang Dia lakukan itu penting, jadi jika Petrus tidak mengizinkan Dia melayaninya, maka dia tidak akan mendapat tempat sebagai pengikut-Nya. Pada saat itu murid-Nya yang banyak mulut itu, karena tidak tahu apa yang harus dia katakan lagi, berkata agar Yesus jangan hanya mencuci kakinya saja tetapi seluruh dirinya.

Yesus merespons bahwa Petrus tidak membutuhkan mandi, tetapi hanya kakinya saja yang perlu dibersihkan. Di sini Kristus kemungkinan menyinggung kebiasaan mandi sebelum menghadiri pesta. Apabila para tamu tiba, hanya perlu dibersihkan kaki mereka saja.

Kita tidak dapat melihat penting dan arti sepenuhnya kata-kata Kristus jika kita memandang kata-kata itu hanya menyinggung pembasuhan secara fisik. Kata-kata itu memiliki arti kerohanian. Ayat 10 mencerminkan, menurut analogi, dua jenis pembersihan kerohanian. Yang pertama digambarkan baptisan pada awal kehidupan seseorang menjadi Kristen. Pada saat itu, seorang yang bertobat dan diampuni dari semua dosanya dibenarkan dalam pandangan Allah. Setelah diselamkan di dalam kuburan air baptisan, orang Kristen baru itu bersih keseluruhannya.

Ketika umat percaya baru itu selanjutnya dalam urusan kehidupan sehari-hari membuat hubungan penuh dosa dengan dunia dan kecemaran, lebih buruk lagi mereka membuat kesalahan dan berbuat dosa, secara pribadi tidak murtad atau meninggalkan Yesus, oleh karena itu mereka tidak memerlukan baptisan sepenuhnya lagi. Tetapi, kita dapat mengatakan bahwa mereka telah mengotori kaki spiritual mereka dalam perjalanan mereka dan membutuhkan pembersihan sebagian dari waktu ke waktu.

Kita harus menganggap pelayanan pembasuhan kaki sebagai bagian suatu baptisan kecil. Sudah waktunya secara pribadi dibersihkan dan membaktikan kembali hidup mereka kepada Yesus sebagai Tuhan dalam kehidupan mereka. Mereka memperbarui janji dan sumpah mereka sebagai hamba kepada dunia di sekeliling mereka dan kepada sesama anggota gereja.

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan