PELAJARAN LAIN TENTANG KEDATANGAN KEDUA KALI

“Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: ‘Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?’” (Matius 24:3).

Kita mencatat kemarin bahwa para murid bingung tentang hubungan kehancuran Bait Allah dan Kedatangan Kedua Kali. Andaikan saya Yesus, maka saya akan menjelaskan kepada mereka pokok pembicaraan itu dan memberi-tahu mereka bahwa kedua peristiwa itu masih akan datang tetapi 2.000 tahun akan berlalu antara kedua kejadian itu.

Tetapi Yesus tidak mengikuti logika saya. Jawaban-Nya memadukan kedua kejadian dan tanda-tandanya dengan suatu cara yang umat Kristen sulit luruskan. Kita bertanya-tanya jalan pemikiran Yesus dan strategi-Nya, padahal Dia dapat menjelaskan segala-galanya. Satu hal yang dapat kita katakan dengan pasti adalah Dia dengan sengaja menggabung kedua kejadian itu dalam penjelasan-Nya.

Tetapi mengapa? Pasal tersebut tidak memberi alasannya kepada kita. Yang paling penting di antara alasan itu adalah bahwa Yesus bukan sekadar mencoba memberitahu kita kapan kesudahan itu akan tiba, tetapi juga menyiagakan para pendengar-Nya bahwa mereka harus hidup dalam pengharapan yang berkesinambungan sementara mereka menanti-nantikan kesudahan itu. Tujuan itu menjadi jelas ketika Matius 24 mendekati akhir dan masuk ke dalam anjuran untuk bersedia dan berjaga (ayat 36, 42, 44, 50). Perumpamaan-perumpamaan besar di pasal 25, yang membentuk kesimpulan khotbah, dimulai dalam pasal 24 dan berlanjut menyampaikan pelajaran agar menunggu dengan setia dan penuh tanggung jawab bekerja sementara para pengikut Kristus menunggu akhir zaman.

Alasan kedua untuk strategi mengajar Yesus adalah bahwa dengan berbuat begitu para pembaca dipaksa untuk secara berkelanjutan memikirkan kembali ajaran-ajaran-Nya tentang Kedatangan Kedua Kali ketika mereka mempelajari yang Dia maksudkan. Pendekatan semacam itu mirip dalam beberapa penggunaan perumpamaan-Nya. Dalam Matius 13:10-15, Yesus mengisyaratkan bahwa Dia mengajar dalam perumpamaan-perumpamaan daripada dalam bahasa yang terus terang karena cara mengajar demikian akan memaksa mereka yang sungguh-sungguh berminat untuk menggumuli arti sesungguhnya tentang apa yang Dia katakan, dengan demikian menjadikan makna itu bagian mereka sendiri.

Sebagai hasilnya, ambiguitas beberapa pernyataan-Nya telah membuat para pembaca bergumul dengan makna khusus dan arti yang dibicarakan. Akibatnya adalah suatu kesadaran dan minat yang terus bergulir dalam hal Kedatangan Kedua Kali. Teknik ini telah membantu orang-orang mengenal maksud utama khotbah-Nya-untuk berjaga dan bersiap, karena mereka benar-benar tidak mengetahui waktu kedatangan sang Guru.

0 komentar :

Post a Comment

 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan