GENERASI YESUS
ISTIRAHAT DALAM DAMAI

   "lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid—murid—Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"’ (Markus 4:37, 38).

    Saya tidak bisa ticlu} nyenyak ketika pesawat yang saya tumpangi naik turun di tengah langit malam hari pada ketinggian 35.000 kaki. Saya lebih suka di tempat tidur saya sendiri. Tapi bisa Yesus tetap tertidur dengan angin ribut, ombak mengamuk, dan air memercik di tengah —malam seperti itu, bukanlah semacam mukjizat. Tetapi apakah menurut Anda itu merupakan suatu mukjizat yang ingin Allah tanamkan jauh di dalam hati generasi Yesus untuk menyiapkan mereka menghadapi badai besar yang akan segera timbul? Oswald Chambers dalam My Utmost for His Highest mendefinisikan

   iman yang percaya dengangcara ini: "Iman itu adalah suatu kepercayaan yang tak terucapkan kepada Allah, kepercayaan yang tidak pernah membayangkan bahwa Ia tidak akan berjaga-jaga di samping kita." Dalam amukan badai itu Yesus tertidur dengan damai karena Ia tidak peijnah bermimpi bahwa Bapa tidak akan ada di samping—Nya. "Di dalam iman itulah—iman kepada kasih dan pemeliharaan A1lah—maka Yesus beristirahat" (The Desire Ages hlm. 336). Iman yang percaya. Sama seperti hari ketika Yesus mati. "Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir bait suci terbelah dua. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring "Ya Bapa, ke dalam tangan—Mu Kuserahkan nyawa-Ku." 

   Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya" (Luk. 23:44-46). Sebagai orang Kristen pertama yang mati syahid, Stefanus melakukan itu“Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku" (Kis. 7:59). Begitu juga John Huss, pen-deta Bohemia dan pembaru, yang kata—kata terakhirnya tertambat di kayu pancang pemhakarannya: “Aku menyerahkan Arohku ke tangan—Mu, Oh Tuhan Yesus, karena Engkau telah menebus aku." Itu juga kata-kata terakhir . Bernard, Luther, dan Melanchthon juga. Dan kata—kata terakhir itu akan menjadi kata—kata hidup oleh generasi umat pilihan terakhir di bumi. “Musim kesesakan dan penderitaan yang ada di hadapan kita akan meminta iman yang bisa menahan keletihan, penundaan, dan ke1aparan—-iman yang tidak akan pudar meski dicobai dengan amat.. kejam. Periode percobaan [sekarang] diberikan kepada semua orang untuk bersiap bagi masa itu", (The Great Controversyfhlm. 621). Mari kita doakan bersama-sama kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami" (Luk. 17:5). Dan Ia akan memberi.
 
RENUNGAN GMAHK © 2016. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top
close
Banner iklan